Menyedihkan, 2 Pasutri & Bocah Penderita Kusta Diasingkan Warga

Menyedihkan, 2 Pasutri & Bocah Penderita Kusta Diasingkan Warga

- detikNews
Selasa, 05 Jul 2005 17:20 WIB
Poso - Malang nian nasib dua pasangan suami istri di Labuan, Poso, Sulawesi Tengah. Bertahun-tahun lamanya mereka hidup terasing dari warga sekitar karena menderita kusta.Mereka ditempatkan di dalam kebun kakao yang jauhnya sekitar 2 kilometer dari permukiman. Untuk makan dan bertahan hidup, mereka hanya mengandalkan bantuan dari para dermawan.Kondisi kehidupan dua pasangan suami istri dan seorang bocah lelaki penderita kusta ini begitu memprihatinkan. Makanan dan kesehatan mereka tak terurus. Kondisi tangan dan kaki mereka yang tak sempurna membuat mereka susah untuk bekerja atau melakukan aktivitas yang membutuhkan tangan dan kakinya.Tengoklah Tujuh Katjo. Kakek berusia 80 tahun ini menderita kusta sejak umur 20 tahun. Ia ditemani istrinya, Rogi Jompe yang 30 tahun lebih muda darinya.Kakek Tujuh Katjo yang jari kaki dan tangannya buntung mengaku pasrah menerima kenyataan hidup ini. Ia sudah lama menderita sehingga lebih kelihatan tabah. Bersama istrinya, sebelum kerusuhan melanda Poso enam tahun lalu, dia dimukimkan pemerintah daerah di pusat rehabilitas penderita kusta di Dusun Le, Toyado, Poso sejak tahun 1966.Namun karena tempat itu juga dibakar, mereka kemudian terpencar. Dua puluh lima penderita kusta lainnya pun entah ke mana perginya. Sementara mereka terpaksa harus tinggal di rumah kebun yang dibuatkan warga setempat yang cemas jika penyakit mereka menular ke warga lainnya."Beginilah keadaan saya. Saya pasrah saja. Untung masih ada orang yang mau membantu kami," ujar kakek Tujuh pada detikcom yang menyambanginya di rumah kebunnya.Di antara mereka juga ada Andu. Bocah yang diperkirakan berusia sekitar 15 tahun ini harus tinggal bersama ibu dan bapaknya yang juga menderita kusta. Ia tak bisa lancar bicara. Pengetahuan berbahasanya sungguh kurang. Saat diajak bercakap-cakap, ia tak mampu menjawab apa pun.Ia hanya tahu menyanyikan lagu Peterpan berjudul "Ada Apa Denganmu" yang ditirunya dari tayangan sinetron televisi, jika ia mencuri-curi waktu turun dari rumah kebunnya ke permukiman warga. Ia baru kembali lagi ke rumah kebunnya setelah diantar pulang oleh warga yang kasihan padanya.Lanonci dan Sartin, bapak ibu Andu, kondisinya tak jauh beda dengan Kakek Tujuh dan Nenek Rogi. Bahkan saat ini, Lanonci tak lagi dapat berjalan. Tangannya kaku, jari-jari kakinya buntung, begitu pula jari tangannya.Sartin, ibu Andu, juga tampak menyedihkan. Tubuhnya kotor, rambutnya pun awut-awutan. Mereka seperti suku terasing yang hidup di tengah-tengah dunia yang makin maju teknologinya. Siapa yang mau peduli pada mereka? (nrl/)


Berita Terkait