DetikNews
Sabtu 14 April 2018, 06:15 WIB

Air Mata Setya Novanto di Tengah Pleidoi

Dhani Irawan - detikNews
Air Mata Setya Novanto di Tengah Pleidoi Setya Novanto menangis di tengah pembacaan pleidoi di Pengadilan Tipikor Jakarta. (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Setya Novanto berurai air mata ketika membela diri dalam persidangan. Air mata Novanto jatuh saat meminta maaf kepada istri dan anak-anaknya karena terjerat korupsi proyek e-KTP.

Awalnya Novanto menceritakan perjalanan hidupnya. Mantan Ketua DPR itu mengaku pernah melakoni berbagai pekerjaan dari bawah hingga seperti sekarang ini.

"Hampir semua pekerjaan kasar saya kerjakan. Pascalulus SMA, saya lanjutkan ke Surabaya untuk bertahan hidup dan berkuliah, mulai jualan beras dan madu di pasar, sales mobil, hingga jadi kepala penjualan mobil untuk seluruh Indonesia timur," ucap Novanto saat membacakan pleidoi dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (13/4).


Kemudian Novanto mengucapkan terima kasih kepada Hayono Isman. Saat itulah suara Novanto tercekat ketika bercerita menjadi pembantu Hayono.

"Di sini saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Hayono Isman, karena si anak melarat ini bisa menjadi orang, menjadi saksi bagaimana saya pernah menggantungkan hidup. Saya rela mengabdi menjadi pembantu, nyuci, ngepel, menjadi sopir, dan bangun pagi untuk mengantar sekolah anak-anaknya," imbuh Novanto dengan suara tercekat.

Namun tampaknya Novanto masih bisa menguasai diri. Dia kembali melanjutkan pembacaan pleidoinya dengan membantah semua dakwaan KPK.

Saat mencapai pembacaan tentang ucapan permintaan maaf kepada istrinya, Deisti Astriani Tagor, suara Novanto terhenti. Dia tampak terisak hingga tak bisa melanjutkan kalimatnya.


"Kepada istri dan anak-anakku tercinta, izinkan saya menyampaikan permohonan maaf kepada istri saya, Deisti Astriani...," ujar Novanto dengan suara tercekat.

"Dan anak-anak saya, Rheza Herwindo dan Dwina Michaella, yang masih bersekolah di Amerika Serikat..., Giovanno Farrell dan Gavriel Putranto," imbuh Novanto sambil terisak.

Deisti, yang duduk di kursi pengunjung, tampak menyeka air matanya dengan tisu. Novanto kemudian berhenti membacakan pleidoinya untuk minum. Setelah itu, ia kembali melanjutkan membaca.

"Sungguh sangat berat cobaan dan musibah yang menerpa keluarga kita. Kita adalah pilihan Allah SWT. Sungguh pertolongan Allah SWT menyiapkan sulit hanya untuk prajuritnya yang terbaik dan insyaallah kita termasuk prajurit-prajurit yang terbaik," ucap Novanto.


Novanto merasa tuntutan hukuman pidana penjara 16 tahun dari jaksa KPK berat baginya. Namun dia mengaku ikhlas apabila nantinya divonis bersalah.

"Secara jujur sangat berat dan di hati saya terpukul apalagi kedudukan saya sebagai Ketua DPR dari 506 anggota dan Ketum Golkar, namun saya sangat ikhlas menjadi kembali, menjadi rakyat biasa, dan pasrah menyerahkan hati kepada Allah SWT," ujar Novanto.

Sebelumnya, Novanto dituntut hukuman pidana penjara 16 tahun dan denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan. Tak hanya itu, Novanto diminta membayar uang pengganti sekitar USD 7,4 miliar dikurangi pengembalian uang Rp 5 miliar yang telah diterima KPK serta dicabut hak politiknya selama 5 tahun.

Jaksa meyakini USD 7,3 juta dari proyek e-KTP ditujukan untuk Novanto meskipun secara fisik uang itu tidak diterima Novanto. Keyakinan ini, menurut jaksa, bersumber pada kesesuaian saksi serta rekaman hasil sadapan.

Novanto ditegaskan jaksa terbukti melakukan intervensi dalam proses penganggaran dan pengadaan barang jasa paket e-KTP. Novanto disebut menyalahgunakan kesempatan dan sarana karena kedudukannya sebagai anggota DPR dan Ketua Fraksi Golkar saat itu memiliki hubungan kedekatan dengan Andi Narogong.
(dhn/nvl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed