Puan Temui Careworker Indonesia di Jepang, Apa Hasilnya?

Puan Temui Careworker Indonesia di Jepang, Apa Hasilnya?

Ahmad Toriq - detikNews
Jumat, 13 Apr 2018 20:32 WIB
Puan Temui Careworker Indonesia di Jepang, Apa Hasilnya?
Puan bertemu careworker Indonesia di Tokyo. Foto: dok. Kemenko PMK
Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani mengunjungi Panti Lansia Minato-ward Special Nursing Home for the Elderly Shirokanenomori, di Tokyo, Jepang. Di panti lansia tersebut banyak careworker atau perawat dari Indonesia.

"Pesan saya pada careworker Indonesia, tetap jaga kebersamaan dan nama baik Indonesia. Tunjukkan bahwa careworker Indonesia mampu bekerja profesional," kata Puan seperti dikutip dari siaran pers Kemenko PMK, Jumat (13/4/2018).

Tercatat ada 2.115 warga negara Indonesia (WNI) menjadi careworker di Jepang sejak 2008-2017. Dari jumlah tersebut, 622 orang bekerja sebagai nurse dan 1.493 orang menjadi careworker. Pada tahun ini, 328 orang sedang diproses untuk penempatan menjadi pekerja di Jepang.

Dalam kunjungan tersebut, Puan yang didampingi Duta Besar RI untuk Jepang dan perwakilan dari Kementerian Kesehatan berdialog dengan 28 calon careworker asal Indonesia.

Setelah berdialog, Puan menyatakan pemerintah Indonesia akan menguatkan program pelatihan bahasa asing dan keterampilan lain di dalam negeri sebelum calon careworker bekerja di luar negeri. Kemampuan berbahasa asing dan keterampilan lainnya jadi syarat yang wajib dipenuhi.

"Pemerintah akan memperkuat program pelatihan di dalam negeri sebelum careworker dikirim mengikuti tes di Jepang agar kelulusan calon careworker Indonesia tinggi," ujar Puan.

Careworker yang bekerja di Jepang mendapatkan fasilitas antara lain gaji sesuai UMR di Jepang (mulai dari Yen 100.000), hak cuti, penginapan, pelatihan, dan uang saku selama pelatihan.

Puan menyampaikan pemerintah Indonesia selalu menyampaikan kepada Pemerintah Jepang agar menambah kuota tenaga careworker asal Indonesia. Namun penambahan kuota itu hanya bisa terpenuhi jika para pekerja memiliki keahlian dan keterampilan mumpuni.

"Pemerintah Jepang telah merespons positif hal tersebut," ucapnya. (tor/van)


Berita Terkait