Pembunuh Sadis Bebas, Warga Ngeri

Pembunuh Sadis Bebas, Warga Ngeri

- detikNews
Selasa, 05 Jul 2005 15:43 WIB
Jakarta - Seorang pembunuh sadis dilepaskan dari penjara. Perempuan bengis itu telah menjalani hari-harinya di bui selama 12 tahun. Dan kini ia bebas menghirup udara segar. Dibebaskannya Karla Homolka menjadi pergunjingan hangat masyarakat Kanada. Banyak yang merasa ngeri mendengar penjahat itu telah dilepas. Demikian seperti dilansir Sydney Morning Herald, Selasa (5/7/2005).Publik Kanada tak akan pernah melupakan peristiwa menakutkan yang terjadi bertahun-tahun silam. Homolka menjadi simbol kejahatan di Kanada pada tahun 1993 ketika ia dinyatakan bersalah atas perannya dalam penculikan, pemerkosaan, dan pembunuhan dua remaja perempuan di Ontario.Homolka melakukan perbuatan sadis itu bersama Paul Bernardo, pria yang saat itu masih menjadi suaminya. Di pengadilan, Homolka berdalih bahwa dirinya terlibat dalam pemerkosaan dan pembunuhan itu, semata-mata karena takut akan ancaman suaminya, Bernardo. Berkat pengakuannya itu, Homolka hanya divonis 12 tahun penjara, jauh lebih ringan daripada suaminya yang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Namun belakangan terbukti bahwa Homolka melakukan tindakan kriminal tersebut atas kemauannya sendiri.Vonis itu sudah mencakup kasus kematian adik perempuan Homolka yang juga sempat diperkosa Bernardo. Homolka pun punya andil dalam perbuatan keji itu. Dirinyalah yang menyeret adiknya yang berusia 15 tahun itu, sehingga Bernardo bisa memperkosanya di ruang bawah tanah rumah keluarga perempuan bengis itu. Kini setelah bebas, Homolka memutuskan untuk tidak kembali ke Kanada. Perempuan berusia 35 tahun itu memilih tinggal di Prancis untuk memulai hidupnya yang baru. Dalam wawancara televisi yang dilakukan di Prancis, mantan narapidana itu berupaya meredakan ketakutan publik akan dirinya."Saya tidak ingin orang-orang berpikiran bahwa saya orang yang berbahaya, yang akan melakukan sesuatu terhadap anak-anak mereka," ujar Homolka. Dia mengaku sangat menyesali perbuatannya. "Saya sering menangis. Saya tidak bisa memaafkan diri saya," ujar Homolka pelan. (ita/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads