"Saya melewati masa krisis yang sangat luar biasa ketika 212. Betul-betul ujian yang besar. Alhamdulillah saya tidak bergeser sedikit pun," ujar Said di gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (10/4/2018).
Menurut Said, aksi 212 merupakan aksi yang memiliki kepentingan politik. Sebagai Ketua PBNU, ia enggan memihak kepentingan-kepentingan politik mana pun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Said memandang aksi 212, di mana para peserta dari daerah banyak yang menginap di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, cukup 'mengganggu' kebersihan tempat ibadah itu. Said menyebut banyak dari mereka yang mengompol di masjid, meneteskan liur saat tidur, dan sebagainya.
"Walaupun diancam atau dirayu, tidak sedikit pun kita bergeser menolak Jumatan di Monas. Satu, karena salat Jumat di Monas bukan salat, tapi politik. Kedua, saya tahu siapa di belakangnya yang biayain," kata Said.
Kritik Said dibalas anggota Dewan Penasihat Persaudaraan Alumni (PA) 212 Eggi Sudjana. Bagi Egi, salat tetaplah salat, di mana pun pelaksanaannya.
Salat, menurut Egi, tak hanya bisa dilakukan di Istiqlal. Tiap sudut bumi, katanya, bisa dipakai untuk salat, asalkan bersih. Kritik Said soal salat di Monas dianggap Egi kurang tepat.
"Soal salat, saya memang tidak ahli fikih, jadi saya tidak mau menanggapi itu, karena bukan keahlian saya. Tapi pengetahuan kecil saya, yang namanya masjid itu namanya tempat sujud, nah seluruh bumi Allah itu bisa tempat sujud, kecuali di tempat yang diharamkan, seperti di WC. Jadi mau di lapangan atau di mana-mana, sah-sah saja," kata Eggi kepada detikcom, Selasa (10/4).
Baca juga: PBNU Luncurkan Buku 'NU Penjaga NKRI' |
Ketua Umum DPP PA 212 Slamet Maarif turut merespons ucapan Said. Bagi Slamet, Said tak mengerti perjuangan umat Islam. Dia menyarankan sang kiai ikut ambil bagian dalam aksi-aksi bela Islam.
"Saran saya, Pak Kiai yang terhormat sekali-kali ikut dalam Aksi Bela Islam 212 supaya paham dan mengerti bagaimana perjuangan umat," ujar Slamet. (gbr/gbr)











































