Cawapres Jokowi Ngaca Dulu

Elza Astari Retaduari, Elza Astari Retaduari - detikNews
Rabu, 11 Apr 2018 08:31 WIB
Foto: Presiden Jokowi. (Ray Jordan/ detikcom).
Jakarta - Jelang Pilpres 2019, partai-partai mulai menyodorkan jagoannya sebagai cawapres bagi Presiden Joko Widodo. Namun para petinggi parpol diminta untuk berkaca dulu sebelum mengajukan diri sebagai cawapres Jokowi.

Ini bisa terlihat dari pernyataan Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah saat menanggapi posko yang dibuat Ketum PKB, Muhaimin Iskandar (Cak Imin). Cak Imin meresmikan posko relawan, JOIN (Jokowi-Cak Imin).

"Cak Imin coba berkaca dulu apakah sudah pantas diduetkan dengan Jokowi?" kata Inas, Selasa (9/4/2018).

Hanura menilai deklarasi Cak Imin itu menunjukkan ambisi yang berlebihan. Menurut Inas, posisi pasangan Jokowi di Pilpres 2019 memang menggiurkan.


"Banyak yang ngiler keblinger ingin diduetkan dengan Jokowi. Yang menjadi persoalan adalah sudah pantas belum?" ujar anggota DPR yang duduk di Komisi VI itu.

PKB merasa tersinggung dengan pernyataan Inas tersebut. Mereka menganggap pernyataan Hanura melecehkan.

"Itu sama saja melecehkan amanat para kiai dan kader seantero Indonesia. Lagian JOIN itu adalah gerakan para sukarelawan yang sebagian besar sudah memahami perjuangan Cak Imin sejak muda," sebut Wasekjen PKB Daniel Johan kepada detikcom, Selasa (10/4).

Keinginan Cak Imin menjadi cawapres bagi Jokowi sudah terdengar cukup lama. Bahkan PKB pernah menyampaikan akan berpaling bila Jokowi tak mau mengajak Cak Imin jadi wakilnya.


Cak Imin pun sudah terang-terangan berbicara soal itu. Saat meresmikan posko JOIN di kawasan Tebet, Jaksel, Selasa (10/4), dia menyatakan diri siap mendampingi Jokowi pada Pilpres 2019.

"Saya nyatakan PKB pada Pilpres 2019 mendatang akan mengusung pasangan Pak Jokowi dan Muhaimin Iskandar yang oleh sahabat Ancu (sapaan akrab Usman Sadikin, red) disebut pasangan JOIN," kata Cak Imin.

Sebenarnya bukan cuma Cak Imin saja yang 'ngebet' ingin menjadi cawapres Jokowi. Beberapa pendukung Jokowi sudah mulai berbicara blak-blakan. Saat ini partai yang sudah mendeklarasikan dukungannya kepada Jokowi adalah PDIP, Golkar, NasDem, Hanura, PPP, PSI, dan Perindo.

"Golkar pun juga sedang membaca kemungkinan mendorong kader sendiri, khususnya Ketua Umum kami, Airlangga Hartarto sebagai Cawapres pak Jokowi," sebut Korbid Pemenangan Pemilu Sumatera DPP Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia, Selasa (13/3).

Cawapres Jokowi Ngaca DuluFoto: Cak Imin saat resmikan Posko JOIN. (Agung Pambudhy/detikcom).

Tak mau kalah, Hanura pun menyodorkan nama Ketua Dewan Pembinanya, Wiranto. Menko Polhukam itu dijagokan untuk mendampingi Jokowi.

"Dari komit saya, sejarah partai ini, sudah pantas saya mengatakan Pak Wiranto calon saya menjadi wakil presiden. Kenapa orang lain berteriak boleh? Kenapa kita tidak? Berdiri saudara nyatakan Pak Wiranto sebagai wakil presiden," ujar Ketum Hanura Oesman Sapta Odang.

Kemudian PPP yang juga tampak sedikit lebih senyap dalam menyodorkan sang ketum, Romahurmuziy (Rommy) sebagai cawapres Jokowi. Di saat DPP PPP belum bicara terang-terangan, kader daerah sudah lebih berani.

"PPP Provinsi Gorontalo menyampaikan dukungan sepenuhnya terhadap sikap DPP PPP dalam mencalonkan kembali Bapak Jokowi sebagai Presiden dan kami resmi mencalonkan Ketua Umum DPP PPP, Romahurmuziy sebagai calon Wakil Presiden mendampingi Bapak Jokowi pada Pemilihan Presiden di tahun 2019," ucap Ketua DPW PPP Provinsi Gorontalo Nelson Pomalingo, Selasa (27/2).


Sementara partai pengusung utama Jokowi, PDIP, belum banyak bicara soal nama cawapres. Mereka menyebut saat ini masih menggodok sejumlah nama untuk pasangan Jokowi, termasuk dari kadernya sendiri.

"Untuk posisi cawapres, PDI Perjuangan belum memutuskan. Di partai sendiri kami juga memiliki kader yang mumpuni untuk posisi tersebut, yaitu Mbak Puan Maharani," sebut Bendahara Fraksi PDIP Alex Indra Lukman.

Jadi siapa yang akan dipilih Jokowi? (elz/rjo)