detikNews
Selasa 10 April 2018, 21:25 WIB

Komisi VII Soroti Dampak Lingkungan Minyak Tumpah di Balikpapan

Puti Aini Yasmi - detikNews
Komisi VII Soroti Dampak Lingkungan Minyak Tumpah di Balikpapan Pencemaran minyak di Teluk Balikpapan (Foto: dok. Twitter Sutopo/@Sutopo_PN)
Jakarta - Komisi VII DPR menyesalkan kurang aktifnya PT Pertamina (Persero) Tbk dalam menangani kasus pipa bocor di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur. Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Herman Khaeron menyoroti dampak lingkungan akibat minyak tumpah di perairan sekitar.

"Saya merasakan ini KLB (kejadian luar biasa) karena lima orang meninggal. Ini mengganggu, (kondisi) luar biasa," kata Herman di gedung DPR, kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (10/4/2018).

Lebih lanjut, ia menilai Pertamina juga kurang sensitif terhadap kejadian tersebut. Hal itu dipandang dari Direktur Utama PT Pertamina Elia Massa Manik yang hingga sekarang belum melakukan kunjungan ke daerah tersebut.



"Dan ini karena Pertamina belum terlihat sensitif untuk kasus ini ini musibah nasional. Harusnya Pertamina melihat sensitivitas dan yang saya sesalkan Dirut Pertamina pun belum datang (ke lokasi) dari waktu musibah sampai hari ini," ucap Herman.

Selain itu, ia juga menyinggung lamanya tindakan yang dilakukan oleh Pertamina. Herman menyoroti soal jeda waktu sekitar tujuh jam dari minyak tumpah hingga terjadi kebakaran.

"Agak aneh kalau kemudian dalam rentang 7 jam ini para pekerja tidak melakukan tindakan, ini pertanyaan besar. Apakah prosedur tak dijalankan dengan baik?" ungkap politikus Partai Demokrat itu.

"Menurut saya, ada unsur kelalaian. Bahkan setelah dua hari baru diumumkan itu minyak tumpah dari Terminal Lawe-Lawe," imbuhnya.

Sementara itu, Herman juga melaporkan dampak dari tumpahnya minyak mentah tersebut ke perairan. Dia memaparkan hal tersebut membuat sebanyak 219 nelayan tidak bisa melaut di Balikpapan Barat dan Kariangau. Komisi VII DPR salah satunya membidangi soal lingkungan hidup.

"Sepuluh set jaring ikan terkena minyak, 2 kapal nelayan 2-5 GT terbakar, 600 buah bubu terkena tumpahan minyak, 15 gillnet terkena minyak," sebut Herman.

"Sebanyak 45 kapal nelayan yang berlabuh tidak bisa melaut selama tiga hari, 32 kotak keramba rusak, dan 175 meter belat tancap terkena minyak," tutupnya.
(elz/elz)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed