Menhub:
Tabrakan KRL Kelalaian Masinis
Senin, 04 Jul 2005 17:41 WIB
Jakarta - Tabrakan maut KRL di Pasar Minggu dipicu pelanggaran sinyal yang dilakukan sang masinis, Acep Darman. Dia pun terancam menjadi tersangka.Demikian hasil investigasi sementara dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang disampaikan Menteri Perhubungan Hatta Rajasa usairapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR RI."Pelanggaran ini adalah kelalaian," tukas Hatta di DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (4/7/2005).Dituturkan, dirinya telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) pada Minggu, 3 Juli 2005. "Saya masuk ke dalam kontrol sinyal kereta api. Sekian bulan terakhir kondisinya cukup baik," kata politisi PAN ini. Apakah sinyal harus diganti? "Sinyalnya tidak diganti. Sinyal itu mechanical electric. Dia bisa mengalami kerusakan. Bukan diganti, tetapi dilakukan perbaikan," urai Hatta.Hatta membantah kecelakaan yang terjadi 30 Juni lalu bukan diakibatkan karena kesalahan sistem. "Bahwa diperlukan improvement perbaikan, upgrate ya memang perlu. Tetapi, kalau dikatakan kesalahan sistem, itu tidak. Karena sistem itu semua bisa dikontrol," kata dia.10 Trainset TambahanPascatabrakan, kereta api tetap menjadi kendaraan favorit. Penumpangnya pun tetap membludak. Hatta menyatakan dibutuhkan sebanyak 24 trainset guna mengatasi padatnya penumpang. Namun yang baru dapat dipenuhi sebanyak 10 trainset. Sedangkan lokomotif yang dibutuhkan sebanyak 200 unit. Baru 50 lokomotif yang disetujui dan dananya pun belum cair."Kita menandatangani kerjasama dengan PT KFW. Baru akan ditenderkan penambahan 10 trainset yang terdiri dari 40 gerbong. Ini didapatkan dari dana pinjaman PT KFW dan 50 persennya dikerjakan PT INKA," urai pria berambut putih ini.Ketika ditanya banyaknya penumpang yang naik ke atas atap gerbong kereta api, Hatta menilai tindakan tersebut melanggar peraturan."Ini akan menjadi ukuran kinerja. Jika masih ada penumpang di atas atap, berarti manajemen ini tidak berhasil," ujarnya.
(aan/)











































