Keluarga Minta Polri Segera Perjelas Status Joko Sumanto
Senin, 04 Jul 2005 17:21 WIB
Solo - Joko Sumanto bersama enam orang lainnya diambil paksa oleh puluhan orang bersenjata di rumahnya di Wonogiri 29 Juni lalu. Hingga kini belum ada kejelasan siapa yang mengambil maupun bagaimana kondisinya. Polisi memang mengaku melakukan penangkapan terkait tindak terorisme, namun belum jelas apakah Joko dan kawan-kawannya termasuk di dalamnya.Istri Joko, Siti Fatimah (34 tahun) saat ditemui di rumahnya di Pokoh 02/03, Wonoboyo, Wonogiri, mengatakan, hingga saat ini belum ada pemberitahuan dari pihak mana pun yang mengaku bertanggung jawab atas pengambilan paksa Joko bersama empat karyawan dan dua tamunya itu. Fatimah tegas membantah pernyataan polisi yang mengatakan bahwa pihak keluarga telah diberitahu."Namun belum juga jelas persoalannya pandangan masyarakat sudah mengarah kepada penilaian. Seolah-olah sudah pasti bahwa Abi (panggilan Fatimah untuk suaminya -red) ditangkap polisi karena melakukan tindakan terorisme. Masyarakat sudah menuduh Abi sebagai teroris. Padahal kalaupun memang Abi ditangkap polisi, hingga saat ini belum kasus maupun statusnya," papar Fatimah kepada detikcom, Senin (4/7/2005).Dia lalu memaparkan bahwa pada 29 Juni siang, rumah yang juga berfungsi sebagai toko bahan bangunan dan alumunium yang dikelola suaminya itu kedatangan tamu. Sore harinya ada satu tamu lagi yang datang. Tidak lama setelah itu datang puluhan orang menggunakan lima mobil menyergap kedua tamu, Joko serta empat karyawannya."Setahu saya tamu yang pertama datang sepanjang hari hanya baca koran di kursi depan karena Abi tetap sibuk mengurusi toko yang sedang banyak pembeli. Seingat saya tamu ini memang pernah beberapa kali datang ke rumah kami tapi saya tidak namanya. Sedangkan tamu yang kedua saya tidak sempat melihat wajahnya, karena saat kejadian saya sedang memandikan anak," ujar Fatimah.Yang lebih mengherankan bagi Fatimah adalah empat karyawan suaminya juga ikut dibawa. Padahal, lanjut Fatimah, salah satu dari mereka harus mendaftar sekolah setelah lulus SMP. Karenanya Fatimah berharap polisi segera memperjelas keberadaan, kondisi dan status hukum mereka dengan segera diberi kabar atau pemberitahuan. Jika memang dituduh bersalah, lanjutnya, segera diproses sesuai aturan."Segera beritahu kami, apakah orang-orang yang ditangkap polisi di Wonogiri terkait kasus teror itu suami saya dan empat karyawannya. Kami kebingungan, demikian juga keluarga karyawan kami yang ikut diambil," ujar ibu lima anak tersebut.FE UNS dan NgrukiLebih lanjut perempuan asal Tanjung Priok, Jakarta, tersebut memaparkan bertemu dengan Joko Sumanto di Solo saat lelaki asli Wonogiri itu kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Negri Sebelas Maret (UNS) Solo. Tidak lama setelah itu keduanya memutuskan untukmenikah."Saya waktu itu berada di Solo untuk belajar di Ma'had Al-Mukmin, Ngruki. Bisa jadi karena saya alumni Al-Mukmin kasus ini nanti segera dikait-kaitkan dengan ma'had seperti yang sudah-sudah. Padahal suami saya juga tidak pernah mondok di sana," kata dia.Dia juga masih yakin suaminya tidak terlibat tindak teror di mana pun karena selama 15 tahun berkeluarga, suaminya tidak menunjukkan perilaku kriminal bahkan tidak pernah bepergian jauh dalam waktu lama. Hal senada juga dikuatkan pengakuan Joko Sumarno, kakak kandung Joko Sumanto."Adik saya orang penurut. Keluar rumah paling jauh untuk mengurus usaha atau pengajian ke masjid. Jadi saya kaget ketika melihat dia digelandang polisi. Saya yakin adik saya hanya dijadikan saksi karena ketamuan orang yang dicurigai. Tamu di rumah ini memang selalu berdatangan dari pagi hingga malam. Dari rumah ini polisi hanya membawa CPU dan ketika disisir tidak ditemukan bahan peledak," ujarnya.Sumarno juga meminta adiknya dan empat karyawannya segera dikembalikan kepada keluarga jika terbukti tidak bersalah. Menurutnya penangkapan empat karyawan itu sangat tidak logis. Saat itu, kata dia, ada satu karyawan yang tidak masuk karena sakit sehingga tidak ikut ditangkap."Nalarnya, kalau memang semua karyawan itu dianggap bersalah maka seharusnya yang satu ini sekarang juga ditangkap. Tapi hal itu tidak dilakukan. Saat penangkapan itu seorang pembeli di toko sempat ikut dipaksa masuk mobil. Demikian juga kerabat kami yang juga anggota polisi yang kebetulan mampir. Namun keduanya dikeluarkan lagi setelah dijelaskan oleh Ketua RT. Ini menunjukkan bahwa mereka asal angkut saja," paparnya.
(nrl/)











































