Pemerintah Ingin Jujur, Angka Ketidaklulusan UN Naik
Senin, 04 Jul 2005 16:35 WIB
Jakarta - Di balik tingginya angka ketidaklulusan pada Ujian Nasional (UN) ternyata ada niat baik. Angka ketidaklulusan naik drastis karena pemerintah sengaja tidak mengkonversi nilai kelulusan. Kenapa? Karena pemerintah ingin melihat realitas kualitas pendidikan di Indonesia secara jujur.Pengakuan ini disampaikan Mendiknas Bambang Soedibyo usai rapat kerja dengan Komisi X DPR RI di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (4/7/2005). Rapat yang juga dihadiri menteri-menteri terkait ini membahas tentang anggaran pendidikan pada APBN 2006.Menurut Bambang, pemerintah akan menempuh berbagai langkah untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Langkah yang akan ditempuh, antara lain, memberikan biaya operasional sekolah (BOS) untuk menyelenggarakan pendidikan dasar gratis.Selain itu, pemerintah juga merenovasi sekolah-sekolah yang rusak, membuat sistem akreditasi massal, dan ke depannya standar nilai ujian 4,26 akan ditingkatkan lagi sehingga menyamai standar di negara lain. Namun tidak disebutkan Bambang, standar negara mana yang dimaksud.Pada tahun ini standar kelulusan siswa adalah 4,26. Ini naik dibandingkan standar kelulusan pada tahun 2003 yang ditetapkan 3,01. Selanjutnya, pada 2004 standar tersebut dinaikkan menjadi 4,01.Akibatnya, jumlah siswa yang tidak lulus tahun ini meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Dari data yang dirilis Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), sebanyak 815.527 siswa dinyatakan tidak lulus. Tahun 2004, yang tidak lulus sebanyak 403.872.Bagi siswa yang tidak lulus akan diberi kesempatan untuk mengikuti ujian nasional tahap kedua yang akan digelar 22-24 Agustus 2005.
(gtp/)











































