detikNews
Sabtu 07 April 2018, 12:14 WIB

Anomali Ahok dan Curhat Anak Bawang Balai Kota

Sudrajat - detikNews
Anomali Ahok dan Curhat Anak Bawang Balai Kota Anggota Komunitas Anak Bawang Balai Kota (Foto: Dok. Gramedia)
Jakarta -

Dalam acara Natalan di sebuah gereja di Kemayoran, Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) melontarkan kritik keras kepada panitia. Musababnya, dalam acara itu panitia membagikan bantuan kepada warga tidak mampu.

Ahok menuding panitia telah menyusahkan orang susah karena faktanya warga yang mendapatkan kursi roda harus datang dan menunggu berjam-jam sebelum naik panggung untuk menerima bantuan.

"Saya paling benci pencitraan seperti ini. Kenapa kita harus memberikan bantuan sosial kepada orang susah dengan menyusahkan mereka," ujar Ahok seperti dikutip Ellen Nio dalam buku 'Ahok dan Hal-hal yang Belum Terungkap'. Ellen adalah satu dari sekian puluh anak muda yang pernah magang di era kepemimpinan Ahok.

Sejak era Jokowi dan Ahok memimpin Jakarta, 2012-2017, ada sekitar 300 orang yang pernah magang di Balai Kota. Mereka punya latar keilmuan beragam dan rata-rata alumnus universitas terkemuka luar dan dalam negeri. Antusiasme anak-anak muda untuk magang di Balai Kota kian meningkat ketika terjadi konflik anggaran antara Ahok sebagai gubernur dan DPRD DKI.

Tak cuma para mahasiswa, kaum profesional dan bergelar master juga ikut merasa terpanggil untuk membantu Ahok. Mereka yang lulus, sebanyak 30 orang, menjadi peserta magang diberi peran dan wewenang cukup besar serta punya akses langsung ke Ahok.

Dengan segala keistimewaan yang diberikan, bila dinilai ada yang salah, Ahok menumpahkan kemarahan tanpa membedakan apakah mereka PNS organik atau anak magang.

"Sial bener nih. Kemarin-kemarin gue kerja keras mengawal lelang konstruksi Rp 6 triliun, eh sekarang malah dimarah-marahi gara-gara duit jutaan gini," tulis Ismail Al Anshori, yang pernah mendampingi Ahok di bidang anggaran dan pengadaan. "Ahok memang super menyebalkan kalau sedang marah, seakan-akan dia yang paling benar dan yang lain adalah hina," imbuhnya.

Menurut Wisnu Nugroho, yang menjadi penyunting buku ini, esensi program magang Ahok adalah kesempatan bagi anak-anak muda untuk berpartisipasi dan berkontribusi dengan masuk ke sistem serta memperbaikinya dari dalam. Di sisi lain, magang juga menjadi salah satu bukti keterbukaan Ahok terhadap partisipasi anak muda.

Dia membuka kesempatan kepada para anak muda untuk menyaksikan sepak terjangnya secara langsung dan dari dekat. Anak-anak magang diberi kesempatan bereksperimen dengan ide-ide baru, membawa semangat dan profesionalisme ke dalam sistem birokrasi.

Alasan lain yang membuat banyak anak muda tertarik ikut magang adalah sosok Ahok yang penuh anomali di tengah kondisi politik yang ada. Salah satu anomali itu adalah seperti yang dikisahkan Ellen di atas.

Tak semua Anak Bawang dalam buku ini mengisahkan pengalaman serius mereka saat berinteraksi dengan Ahok. Atau memaparkan ide-ide kreatif yang menjadi terobosan dalam pelayanan birokrasi di lingkungan Pemprov DKI. Yolanda Ryan Armindya, misalnya, justru memotret sisi lain Ahok yang terkesan impulsif itu ternyata juga humanis dan romantis.

Anak magang yang mengurusi perizinan, infrastruktur, banjir, dan pengaduan masyarakat ini mengaku pernah dibuat malu oleh Ahok. Sebab, ketika dirinya mengabari akan berulang tahun, mantan Bupati Bangka Belitung itu cuma menukas cuek, "Terus Kenape?"

Tapi, ketika hari H tiba, 17 Juli 2016, dia benar-benar mendapatkan kejutan istimewa dari si bos yang sempat dianggapnya kurang peduli terhadap kehidupan pribadi anak buahnya itu. Selain kartu ucapan, rupanya Ahok mengiriminya rangkaian aneka bunga dalam sebuah vas.

"Terhitung delapan bulan saya bekerja dengan Ahok. Namun baru lewat momen itu saya sadar bahwa Ahok se-thoughtful itu. Lembur dan kurang tidur saya seminggu terakhir lunas terbayar," tulis Yolanda.


(jat/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed