BPPT: Potensi Tsunami 57 Meter di Pandeglang Bukan Prediksi

Yulida Medistiara - detikNews
Jumat, 06 Apr 2018 18:20 WIB
Widjo Kongko, peneliti potensi tsunami dari BPPT. (Yulida Medistiara/detikcom)
Jakarta - Perihal potensi tsunami 57 meter di Pandeglang, Banten, peneliti menyatakan itu bukanlah prediksi. Soalnya, tsunami tidak bisa diprediksi.

Ini dinyatakan Perekayasa Bidang Kelautan Balai Teknologi Infrastruktur Pelabuhan dan Dinamika Pantai (BTIPDP) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko, di kantor BPPT II, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (6/4/2018).

"Judul saya itu adalah potensi, bukan prediksi. Saya klarifikasi, prediksi itu beda sekali dengan potensi. Kalau cari di Wikipedia itu beda, prediksi terkait ukuran-ukuran, termasuk waktu. Kalau potensial adalah kemampuan yang belum terjadi dan itu banyak hal," kata Widjo.



Awalnya dia berbicara soal potensi tsunami itu dalam acara seminar ilmiah BMKG dalam rangka memperingati Hari Meteorologi Dunia ke-68, dengan topik 'Sumber Sumber Gempa Bumi dan Potensi Tsunami'. Acara itu dihadiri akademisi. Dia tidak tahu ada wartawan yang hadir.

"Kemarin seminar di BMKG itu saya tanya ini internal atau wartawan atau terbuka. Itu kemarin saya paparan kalau teman-teman (akademisi) itu sudah paham istilah simulasi komputer dan istilah potensi. Suprise (kejutan), juga ada wartawan (di akhir), saya pikir ini live, ya sudah saya jawab," kata Widjo.



Dia mengatakan potensi tersebut merupakan kajian awal di mana sumber tsunami merupakan megathrust yang petanya ada di buku 'Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia' tahun 2017 yang disusun Kementerian PUPR.

Peta tersebut menggambarkan tiga potensi gempa bumi megathrust di lokasi dekat dengan wilayah kajian, yang terdiri atas Enggano (M 8,4 ), Selat Sunda (M 8,7), dan Jawa Barat-Tengah (M 8,7). Tiga potensi gempa bumi ini, jika terjadi, akan menyebabkan tsunami yang berdampak besar di wilayah Sumatera bagian selatan, Selat Sunda, dan Jawa bagian barat.

Ia menjelaskan potensi tsunami tersebut adalah hasil kajian akademis awal dari simulasi model komputer menggunakan sumber tsunami dari gempa bumi dengan berbagai variasi skenario. Potensi skenario terburuk adalah jika tiga gempa bumi megathrust itu terjadi secara bersamaan dengan skala M 9 dan menimbulkan tsunami.

"Simulasi itu sebetulnya memang simulasi, tidak sesungguhnya, tapi simulasi itu penting karena kita ingin mendekati yang sesungguhnya. Di dalam simulasi itu, ada banyak faktor. Kita ilmuwan sudah belajar beberapa faktor yang dominan apa yang tidak dominan apa. Tapi ada faktor yang kami tidak tahu," ujar Widjo.

[Gambas:Video 20detik]


Ia mengatakan data yang dipakai pada simulasi ini menggunakan data sekunder GEBCO dengan resolusi rendah (900 m). Titik pengamatan tinggi dan waktu tiba tsunami meliputi 3 provinsi, yaitu Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten, serta 10 kabupaten dan 2 kota. Wilayah tersebut adalah Bekasi, Jakarta Utara, Tangerang, Serang, Banten, Cilegon, Pandeglang, Lebak, Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis.

Ia menambahkan terkait potensi tsunami di Jawa Barat masih perlu ditindaklanjuti berupa kajian menggunakan data yang lebih akurat, khususnya di daerah perairan pantai. Meski begitu, ia menyebut masyarakat tidak perlu khawatir terkait informasi tersebut.

"Masyarakat tidak perlu khawatir dengan pemberitaan ini. Permohonan maaf BPPT kepada masyarakat Indonesia yang terdampak sekiranya hasil studi awal potensi tsunami di Jawa bagian Barat yang seharusnya hanya untuk konsumsi akademis ini telah membuat keresahan masyarakat," ujarnya. (yld/dnu)