Cambridge Analytica Panen Facebookers RI, Dipakai untuk Politik?

Danu Damarjati - detikNews
Jumat, 06 Apr 2018 14:49 WIB
Ilustrasi foto: Reuters/Kacper Pempel
Jakarta - Cambridge Analytica ternyata 'memanen' data sejuta lebih pengguna Facebook di Indonesia. Jumlah akun Indonesia yang dikarungi Cambridge Analytica menempati peringkat ketiga setelah Amerika Serikat dan Filipina. Apakah data orang Indonesia itu digunakan untuk kepentingan politik?

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara telah bertemu dengan perwakilan Facebook Indonesia Ruben Hattari di Gedung Kominfo, Jakarta, Kamis (5/4) kemarin. Facebook diminta melakukan terhadap dirinya sendiri untuk mengetahui seluk beluk skandal canggih ini.

"Kemarin, kepada Facebook kami meminta, (a) rincian dari data pengguna Facebook di Indonesia, terutama dari klasifikasi penggunaan data oleh Cambridge Analytica. (b) Hasil dari rencana audit oleh Facebook atas aplikasi-aplikasi pihak ketiga yang menggunakan Facebook," kata Rudiantara kepada detikcom, Jumat (6/4/2018).



Sekalian, Rudiantara juga menerbitkan peringatan tertulis kepada Facebook karena telah melanggar Peraturan Menkominfo Nomor 20 Tahun 2016 tentang Perlindungan Data Pribadi dalam Sistem Elektronik. Sanksi 12 tahun penjara dan denda Rp 12 miliar bisa mengancam mereka.

"Sudah kami koordinasikan kepada teman-teman Polri sebagai aparat penegak hukum," kata Rudiantara.

Kembali ke pertanyaan awal, apakah sejuta data hasil panen Cambridge Analytica dari akun Facebook orang Indonesia itu digunakan untuk kepentingan politik?



"Belum tahu. Karena kemarin (melalui perwakilan Facebook di Indonesia) saya minta hasil rencana audit yang akan dilakukan terhadap seluruh aplikasi-aplikasi pihak ketiga yang dijalankan pada platform Facebook," jawab Rudiantara.

Cambridge Analytica Panen Facebookers RI, Dipakai untuk Politik?Menkominfo Rudiantara (detikINET/Agus Tri Haryanto)


Maka kepastian soal digunakan untuk kepentingan apakah data-data Facebookers RI, perlu menunggu hasil audit selesai dan diumumkan. Soal kapan hasil audit itu diumumkan, masih belum bisa dipastikan.



Cambridge Analytica adalah perusahaan analisis data yang berada di balik kemenangan Donald Trump di Pilpres AS 2016. Perusahaan kontroversial ini juga pernah beroperasi di banyak negara lain. Kesalahan yang disangkakan kepada Cambridge Analytica, mereka memanen data dari pengguna Facebook tanpa pengguna Facebook itu tahu untuk apa data-data itu digunakan. Ternyata untuk kepentingan politik.

Lewat blog perusahaan, Chief Technology Office Facebook Mike Schroepfer mengungkap perusahaannya telah berbagi data hingga 87 juta dengan perusahaan konsultan politik Cambridge Analytica. Dari jumlah tersebut, sebagian besar pengguna yang terkena dampak berada di Amerika Serikat.

Tapi paling mengejutkan, dari data yang disajikan Chroepfer, ada nama Indonesia di daftar negara yang data penggunanya dibagi ke Cambridge Analytica. Jumlahnya cukup banyak, yakni 1.096.666 atau sekitar 1,3% dari total. Angka tersebut membuat Indonesia berada di urutan ketiga setelah Amerika Serikat dan Filipina.



Kerja Cambridge Analytica dalam memenangkan seorang calon pemimpin yakni dengan menjalankan strategi micro-targeting dan psikografi. Mahadata (big data) dianalisis sehingga bisa terlihat karakteristik-karakteristik objek kampanye yang disasar.

Data yang telah dikumpulkan lalu digunakan untuk mengidentifikasi pemilih yang dapat dibujuk (persuadable voters). Data itu juga digunakan untuk mengindentifikasi isu-isu yang menjadi perhatian para pemilih. Data-data tersebut lalu masuk ke tim pengolah data yang diklaim Cambridge berisikan orang-orang dengan kaliber PhD alias doktor. Para anggota tim ini juga telah berpengalaman di berbagai pemilihan presiden, kongres, hingga gubernur. Cambridge Analytica kemudian mengirimkan 'pesan-pesan' yang berdampak pada sikap para pemilih.

Segmentasi psikografi berarti objek dipetakan berdasarkan karakter, motivasi, gaya hidup, hingga karakter kepribadian. Maka mikrotargeting bisa dijalankan, yakni menyasar objek kampanye dengan cara yang lebih terpersonalisasi menurut kondisi psikologis mereka, bukan hanya kampanye secara umum.



Cambridge Analytica berkolaborasi dengan puluhan teknologi periklanan untuk memengaruhi pemilih. Sebagai contohnya, jika ada orang yang peduli dengan kesehatan maka mereka akan dialihkan ke situs yang memaparkan program Trump soal kesehatan. Pemasaran digital Cambridge Analytica melibatkan sejumlah platform, termasuk media sosial, situs pencarian, dan situs berbagi video YouTube. Cambridge Analytica menyebut teknik yang mereka terapkan membuahkan hasil berupa kemenangan Trump.

Pengambilan data publik secara ilegal, seperti yang disebutkan sebelumnya, bukanlah satu-satunya skandal Cambridge Analytica. Politico melaporkan Cambridge Analytica juga menggunakan cara-cara kotor dalam membantu kliennya. Di antara cara-cara kotor tersebut menyebar isu yang merusak reputasi lawan hingga memanfaatkan wanita penghibur untuk menjebak lawan-lawannya. Strategi yang diterapkan didasarkan pada data yang diperoleh di dunia maya.

(dnu/tor)