DetikNews
Jumat 06 April 2018, 13:10 WIB

Setelah Listrik Kedondong Tinggal Cerita, Ini yang Dilakukan Warga

Agus Setyadi - detikNews
Setelah Listrik Kedondong Tinggal Cerita, Ini yang Dilakukan Warga Menteri ESDM Ignasius Jonan mengundang Naufal Raziq, bocah 15 tahun asal Aceh penemu energi listrik dari pohon kedondong pagar. (Ari/detikcom)
Aceh - Keinginan warga Desa Tampur Paloh, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur, hidup dalam terang seketika pupus. Listrik kedondong yang digadang-gadang mampu menyinari rumah berbanding terbalik dengan keadaan. Alhasil, warga memilih berpatungan membeli solar untuk menyalakan mesin genset.

Tokoh masyarakat Tampur Paloh, Hasbi (53), mengatakan, di desanya kini sudah ada delapan mesin genset diesel yang dibeli oleh delapan warga Tampur Paloh. Satu mesin genset itu mampu menghidupkan listrik sekitar 20 rumah.

"Delapan mesin itu milik pribadi. Kami warga di sini patungan untuk membeli minyak. Kalau mesin rusak, pemilik yang perbaiki. (Status) sosial yang punya mesin memang sangat tinggi," kata Hasbi saat ditemui detikcom akhir pekan lalu.

Untuk memakai listrik tenaga genset, masyarakat harus membayar uang pembelian minyak. Warga yang hanya menggunakan lampu dibebani biaya Rp 90 ribu per bulan. Sedangkan warga yang memiliki televisi membayar Rp 150 ribu per bulan. Warga tidak mampu hanya bisa mengandalkan lampu teplok.

Listrik genset ini hidup dari pukul 18.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB. Setelah itu, perkampungan kembali gelap-gulita. Menurut Hasbi, lampu hidup bergantung pada minyak yang dibeli berdasarkan uang hasil patungan. Begitu solar habis, listrik padam.

Setelah Listrik Kedondong Tinggal Cerita, Ini yang Dilakukan Warga

"Satu liter solar di sini harganya Rp 10 ribu, harga Premium juga sama. Kadang jam 11 malam habis minyak genset, ya kami kembali gelap-gulita. Besok beli lagi minyaknya," jelas Hasbi.

"Kita patungan beli minyak saja. Itu biaya perawatannya belum kita hitung. (Status) sosial mereka masih kita hargai, karena kita cuma beli minyak saja. Kalau rusak mesin, yang punya yang betulin. Kadang kasihan juga kita tengok, tapi mau gimana, kami nggak punya uang," ungkap Hasbi.

Menurut Hasbi, di Tampur Paloh terdapat 112 keluarga. Warga pedalaman Aceh Timur itu hingga kini belum pernah merasakan listrik PLN. Instalasi listrik di sebagian rumah sudah terpasang. Pemasangannya dilakukan untuk menghidupkan listrik dari pohon kedondong.

"Desa ini kalau tengah malam itu jadi gelap-gulita, apalagi setelah minyak genset habis. Tinggal di sini masih kayak zaman Belanda dululah. Kami masih pakai lampu teplok. Kadang-kadang ada rumah warga yang nggak pakai lampu karena nggak sanggup beli minyak, sedih nggak. Seperti ibu-ibu yang janda kita bangunin, kok nggak ada orang, padahal ada di dalam tapi karena gelap," jelas Hasbi.

Di Desa Tampur Paloh pernah dipasangi listrik pohon kedondong oleh Pertamina EP. Namun lampu hidup hanya dua jam. Setelah itu, cahaya meredup hingga mati total sampai kini. Pohon kedondong yang ditanam di belakang rumah warga juga sudah banyak yang ditebang untuk dijadikan kayu bakar.

"Listrik kedondong, saat ada kunjungan, ada hidup listrik. Ada kunjungan pejabat. Setiap kunjungan pejabat, listrik hidup. Tiga hari sebelum acara kunjungan, teknisi sudah naik duluan. Nggak perlu ngebor, tinggal kotek-koteklah," kata Hasbi.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed