"Waktu acara di Jombang itu kampanye akbar pasangan Khofifah-Emil itu partai pengusung datang. Kemudian disampaikan di atas dan salah satunya bertemu dengan Rommy, Ketum PPP, terus ngobrol. Rommy nafsirin tuh. Ke-geeran dia. Itu nafsu tunggal sendiri," kata Hinca di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (5/4/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sudah komunikasi dengan ketua umum, nggak kayak gitu (tidak seperti yang disampaikan oleh Rommy). Posisi kami adalah posisi yang pada saat Rampinas. Rapimnas itu lah posisi partai. Belum ada koreksi terhadap posisi itu," terangnya.
Hinca kemudian mengungkit kembali pernyataan SBY kepada Jokowi terkait syarat koalisi. Menurutnya, perlu ada kesamaan visi dan misi sebelum memutuskan untuk berkoalisi.
"Kan statement Pak SBY jelas kata-katanya kan begini, 'Bapak Jokowi, kami dapat bekerja sama dengan tiga syarat itu'. Nah, berkoalisi itukan harus sama-sama, misinya sama-sama, visinya sama-sama. Karena itu hari ini kami belum mengambil keputusan apapun kecuali sikap kami di Rapimnas itu. Jadi kalau Rommy bilang begitu, wah itu pandangan pribadinya itu," tutupnya.
Sebelumnya Ketum Partai Persatuan Pembangunan Romahurmuziy (Rommy) bertemu dengan Ketum Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono di Jombang, Jawa Timur, Senin (2/4). Rommy yakin PD segera bergabung ke koalisi Jokowi.
"Saya berharap pada 2019 SBY (Ketum PD, Susilo Bambang Yudhoyono) bersikap. Insyaallah Demokrat pada saatnya saya yakini akan bergabung. Kalau nanti pun pada akhirnya merapat kepada Jokowi, itu akan menjadi tambahan kekuatan," kata Rommy di ruang Fraksi PPP, gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (4/4).
(yas/imk)










































