DetikNews
Kamis 05 April 2018, 15:25 WIB

Dulu Bikin Heboh, Listrik Pohon Kedondong Kini Tinggal Cerita

Agus Setyadi - detikNews
Dulu Bikin Heboh, Listrik Pohon Kedondong Kini Tinggal Cerita Pohon kedondong yang sempat menyalakan listrik, ternyata ada batu baterainya (agus/detikcom)
Aceh - Enam batang pohon kedondong mulai tumbuh besar di belakang rumah Hasbi (53). Letaknya berjejeran dengan jarak sekitar 30 cm. Pada bagian tengah batang pohon, dilubangi untuk ditaruh kabel. Pohon-pohon ini dulunya digadang-gadangkan mampu menghasilkan arus listrik.

Keberadaan listrik dari pohon kedondong sempat membuat warga senang. Saat diresmikan dua tahun silam, enam batang pohon kedondong ini diklaim mampu menghidupkan beberapa bola lampu. Namun, kesenangan warga kala itu seketika pupus.


Rumah Hasbi di Desa Tampur Paloh, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur, Aceh menjadi salah satu lokasi percobaan. Lampu menyala terang saat pertama kali dihidupkan. Namun dua jam usai diresmikan cahayanya perlahan meredup hingga mati total sampai sekarang.

"Waktu itu masyarakat sempat menikmati lampu listrik kedondong selama dua jam. Di sekolah sampai satu minggu. Di rumah saya cuma dua jam hidup setelah itu tidak hidup sama sekali," kata Hasbi saat detikcom menyambanginya beberapa waktu lalu.

Listrik kedondong ini awalnya ditemukan oleh Naufal Raziq (15) siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Langsa, Aceh. Penemuan ini membuat heboh hingga Pertamina EP turun tangan membina Naufal. Pada 2016 silam, Pertamina mencoba membantu warga Tampur Paloh yang sebelumnya belum pernah merasakan cahaya lampu.

Proyek listrik pohon kedondong disambut baik warga. Pohon kedondong ditanam dibeberapa rumah. Tak lama berselang, pemasangan instalasi listrik dilakukan di 30 rumah yang dijadikan lokasi percobaan. Ketika proses peresmian digelar, petinggi Pertamina EP dan pejabat setempat hadir.


Tampur Paloh berubah menjadi perkampungan yang sudah mempunyai listrik. Tapi harapan warga untuk hidup dalam terang tak berlangsung lama. Setelah pejabat pulang, listrik mati. Perkampungan pada malam hari kembali seperti semula: gelap gulita.

"Desa ini kalau tengah malam itu jadi gelap gulita apalagi setelah minyak genset habis. Tinggal di sini masih kayak zaman Belanda dululah. Kami masih pakai lampu teplok," ungkap Hasbi.

"Kadang-kadang ada rumah warga yang enggak pakai lampu, karena enggak sanggup beli minyak, sedih enggak. Seperti ibu-ibu yang janda kita bangunin kok enggak ada orang padahal ada di dalam tapi karena gelap," jelas Hasbi.

Menurut Hasbi, warga kala itu sudah mulai curiga dengan listrik kedondong. Beberapa hari berselang usai diresmikan, warga mencoba memeriksa kabel-kabel yang dipasang di batang pohon. Ternyata, sejumlah baterai ditemukan terpasang melekat pada batang kedondong. Baterai itu berfungsi untuk menghidupkan lampu sementara batang kedondong hanya kemasan saja.

"Saya menemukan beberapa baterai yang dipasang di pohon kedondong. Kalau pakai baterai, jangankan pohon kedondong, semua pohon juga bisa," ungkap Hasbi.


Masyarakat Tampur Paloh merasa dibohongi. Keinginan mempunyai listrik kembali sirna. Kini, beberapa rumah di Tampur Paloh mengandalkan mesin genset yang bunyinya "dong... dong... dong" dan terdengar ke seantero desa.

Untuk memakai listrik tenaga genset, masyarakat harus membayar uang pembelian minyak. Warga yang menggunakan lampu saja dibebani biaya Rp 90 ribu perbulannya. Sementara bagi warga yang memiliki televisi membayar sebanyak Rp 150 ribu per bulan. Warga tidak mampu, hanya bisa mengandalkan lampu teplok.

"Listrik kedondong ini tidak berfungsi. Sekarang pohon kedondongnya saja sudah banyak dijadikan warga sebagai kayu bakar," jelas Hasbi.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed