Gelombang Pembelaan dr Terawan Makin Besar

ADVERTISEMENT

Gelombang Pembelaan dr Terawan Makin Besar

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Rabu, 04 Apr 2018 20:30 WIB
Dokter Terawan Agus Putranto. (Widiya Wiyanti/detikcom)
Jakarta - Gelombang dukungan berdatangan menyusul adanya kabar pemecatan dr Terawan Agus Putranto, SpRad. Satu per satu pihak yang merasa pernah ditolong membela dr Terawan, yang juga Kepala RSPAD.

"Ya bela saja sepanjang kita bagus (sehat), kenapa?" ujar KSAD Jenderal Mulyono saat ditemui di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (4/4/2018).

Mulyono juga mempertanyakan kabar pemecatan dr Terawan oleh IDI. Menurut Mulyono, IDI tak pernah berkomunikasi dengan pihaknya. Mulyono bahkan menilai IDI main 'tembak-tembak' sendiri.



"Sekarang yang salah di mana? Dokter Terawan kesalahannya di mana? Kecuali yang diobati mati kabeh (semua, red). Ini gimana? Yang diobati merasa nyaman, enak, sembuh, berarti ilmunya benar. Kalau benar, kenapa nggak duduk bersama, komunikasi dari IDI, 'Terawan, kamu itu sebenarnya gimana sih?' Itu duduk bersama, kerja sama malah lebih bagus, bukan otot-ototan masalah aturan, itu salah. Itu melanggar aturan," tutur Mulyono.

Kabar soal pemecatan itu mulanya berawal dari Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Dokter Terawan dinilai melakukan pelanggaran etik serius.

"... menetapkan bobot pelanggaran etik kedokteran dr TAP adalah berat (serious ethical misconduct/pelanggaran etik serius)," tulis MKEK dalam salinan surat yang beredar.

"Dan menetapkan sanksi berupa pemecatan sementara sebagai anggota IDI selama 12 bulan dimulai tanggal 26 Februari 2018 sampai dengan 25 Februari 2019 dan diikuti pernyataan tertulis pencabutan rekomendasi izin prakteknya," lanjutnya.



Sekretaris MKEK dr Pukovisa Prawiroharjo, SpS, mengaku sudah tahu bahwa surat itu beredar luas. Tetapi dia tak dalam posisi membenarkan isi salinan surat itu.

"Jadi sebenarnya tugas dan kewajiban MKEK selesai dengan keputusan. Yang jadi 'jaksa' dan 'polisi' masuknya ke badan eksekutif. Dalam hal ini bisa ke pengurus IDI pusat atau daerah. Atau terkait dengan perhimpunan dokter spesialis terkaitnya," tutur dr Pukovisa, Selasa (3/4).

Kabar pemecatan ini langsung direspons oleh orang-orang yang merasa disembuhkan oleh dr Terawan. Salah satunya mantan Ketum Golkar Aburizal Bakrie (Ical).

"Ramai diberitakan kabar Kepala RSPAD Mayjen TNI dr Terawan Agus Putranto diberhentikan oleh IDI dengan alasan etik. Metode 'cuci otak'-nya dipermasalahkan, padahal dengan itu dia telah menolong baik mencegah maupun mengobati puluhan ribu orang penderita stroke," tulis Ical di Instagram, Selasa (3/4).

Ical adalah salah satu pasien dr Terawan yang merasakan manfaat metode 'cuci otak' itu. Dia menyebut presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, mantan Wapres yang kini jadi anggota Dewan Pengarah BPIP Try Sutrisno, hingga mantan KaBIN AM Hendropriyono pernah ditolong dr Terawan.

"Inilah mengapa saya perlu ikut membela dia. Orang yang dengki terhadap keberhasilan orang lain adalah orang yang tak pandai mensyukuri bahwa Allah telah memberikan kelebihan pada siapa pun yang dikehendakinya," ungkap dia.

Ical mengimbuhkan tagar #SaveDokterTerawan. Tagar itu kemudian menggema di media sosial hingga hari ini.

Selain itu, Karo Misi Internasional Divhubinter Polri Brigjen Krishna Murti, SIK, MSi, pernah merasakan terapi dr Terawan. Dia juga memberikan testimoni menyusul kabar pemecatan dr Terawan.

"Saya pernah dilakukan perawatan dengan metode DSA oleh Dokter Terawan di RSPAD Gatot Subroto. Dari sisi medis dll saya tidak paham. Yang saya rasakan adalah kesehatan saya pulih dan lumayan membaik saat itu..," tulis Krishna dalam akun Instagram-nya, Selasa (3/4).

Sore tadi, rombongan Komisi I DPR RI menyambangi RSPAD. Anggota Komisi I DPR RI Dave Laksono meminta Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencabut pemecatan untuk dr Terawan. Bagi Dave, tak ada yang dilanggar oleh dr Terawan.

"Itu kan bisa merusak nama baik dia, apalagi kita tahu dampaknya dari DSA (digital subtraction angiography) ini sangat bagus. Banyak yang dari Komisi I dan ribuan orang Indonesia (pernah jadi pasien dr Terawan), dari presiden sampai rakyat biasa," kata Dave, yang juga putra mantan Menko Kesra Agung Laksono.

Pengobatan DSA atau 'cuci otak' dari dr Terawan memang sudah lama menjadi kontroversi. Namun Sekretaris Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) enggan menyebut alasan pemecatannya. Ia hanya membenarkan isi surat yang menyebut ada pelanggaran etik serius atau serious ethical misconduct.

"Yang harus digarisbawahi, kita tidak menyinggung akademiknya yang sudah lulus S3. Kami juga tidak berbicara mengenai 'brain wash'-nya," kata dr Pukovisa saat dimintai konfirmasi.

Akhirnya dr Terawan angkat bicara soal kabar pemecatan dirinya dari IDI. Tapi dr Terawan tak mau mengomentari soal kabar pemecatan itu.

"Saya ndak menanggapi itu karena saya tidak dapat suratnya. Saya harus dapat suratnya baru bisa mengomentari," ujarnya saat konferensi pers di Gedung Utama Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Senen, Rabu (4/4/2018).

Anggota Komisi I DPR Abdul Kharis, yang juga ada di lokasi bersama dr Terawan, lalu menambahkan kabar pemecatan itu memang belum keluar dari IDI. Kabar itu baru muncul dari surat rekomendasi MKEK yang seharusnya bersifat rahasia.

"DSA sudah saya disertasikan di Universitas Hasanuddin bersama 5 orang yang lain. Berarti 6 orang bersama menjadi pohon penelitian riset yang cukup baik sehingga menghasilkan 12 jurnal internasional," kata dr Terawan.

Prestasi dr Terawan juga membuahkan penghargaan yang diberikan langsung oleh Presiden RI. Pada 13 Agustus 2013, dr Terawan mendapat Bintang Mahaputera Nararya dari presiden ke-6 RI SBY. (bag/fjp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT