SBY Berterimakasih Dijuluki Star of Asia
Sabtu, 02 Jul 2005 16:34 WIB
Jakarta - Dianggap berprestasi, siapa yang tak suka? Karena itu, Presiden SBY berterimakasih telah dijadikan salah satu Star of Asia untuk kategori agenda setter oleh Majalah Business Week edisi terbaru. "Saya belum baca, baru diberitahu Dino (Jubir Kepresidenan Dino Patti Djalal-red), ada semacam apresiasi terhadap apa yang kita lakukan," kata SBY ketika diminta wartawan berkomentar atas julukan barunya itu, Sabtu (2/7/2005)."Saya berterimakasih dan memberi penghargaan kepada mereka yang memberi penilaian baik itu," sambung SBY usai menerima PM Polandia Marek Belka di Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara, Jakpus.SBY mengingatkan semua pihak untuk tidak cepat puas dengan penghargaan tersebut. Sebab yang tercapai baru langkah awal dari panjangnya perjalanan bangsa. "Masalah penegakan hukum, pertumbuhan ekonomi, pendidikan, kesehatan, pengangguran, kemiskinan dan gangguan keamanan masih terjadi. Artinya, minimal lima tahun ke depan, perjalanan pemerintahan akan berjalan penuh tantangan," papar pria bergelar doktor pertanian ini.SBY menekankan, ada banyak prioritas agenda berat yang ditetapkan untuk menangani masalah itu. Semua membutuhkan kerja keras untuk dapat mencapai target pemerataan kemakmuran masyrakat dan pemerintahan yang bersih.Presiden memaparkan, ketika langkah awal penanganan bangsa sedang digelar, tiba-tiba terjadi tsunami. Bencana yang memorakporandakan NAD dan Nias itu, aku SBY, menyita perhatian pemerintah hingga empat bulan pertama tahun 2005. Sekarang masalah yang krusial adalah melonjaknya harga minyak dunia hingga ke level tertinggi sepanjang sejarah. Padahal di saat bersamaan, produksi minyak nasional terus menyusut, sementara konsumsi BBM naik.Apabila persoalan pelik ini salah dalam penanganannya, dapat berakibat fatal pada kehidupan ekonomi masyarakat ke depan. "Sebenarnya saya menjalankan tugas pemerintahan bersama-sama dengan masyarakat dan institusi negara lainnya. Banyak sekali masalah kronis muncul tiap tahun. Barangkali bila ada krisis sekali lagi, tidak bisa kita atasi dengan baik," kata SBY.
(nrl/)











































