Gubernur PTIK:
Jangan Banyak Berharap pada Tanto
Sabtu, 02 Jul 2005 15:40 WIB
Jakarta - Masyarakat diminta jangan terlalu berharap kepada calon Kapolri baru Komjen Pol Sutanto dalam menangani kasus-kasus besar. Misalnya menangkap gembong teroris Dr Azahari dan Noordin Moh Top.Kalau orang biasa yang bicara seperti itu tentu wajar-wajar saja. Tapi menjadi istimewa karena komentar ini keluar dari sesama jenderal polisi, yaitu Gubernur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Irjen Farouk Muhammad."Penangkapan Noordin dan Azahari sama dengan penangkapan buronan kejahatan yang lain. Jadi, jangan banyak menaruh harapan kepada Pak Tanto," kata Farouk usai menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk "Kapolri, Polri dan 59 tahun Polri" di Marios Place, Jl HOS Cokroaminoto, Jakpus, Sabtu (2/7/2005).Namun Farouk mengharapkan Sutanto nantinya mampu membangun sistem yang tidak memungkinkan berkembangnya aksi teroris di Indonesia.Sebaliknya, pengamat kepolisian yang juga hadir dalam diskusi itu, Hermawan Sulistyo, yakin bahwa Sutanto yang punya rumah keren di bilangan elit Pondok Indah ini dapat menangkap Azahari dan Noordin.Menurutnya, sulitnya menangkap teroris itu karena kesalahan sistem dan organisasi di dalam tubuh Polri. Bahkan polisi sendiri menghindar untuk menjadi pasukan antiteror karena bukan merupakan lahan basah."Lebih baik menjadi Kapolres karena uangnya banyak," komentar Kiki, panggilan pengamat dari LIPI ini. Dia juga menilai, polisi dalam menangani berbagai kasus tidak berdasarkan keahlian dan cenderung opurtunistik.Sikap oportunistik itu misalnya, urai dia, ketika perwira yang mengejar Azahari dan Noordin yang telah menguasai 75 persen data dua teroris itu dipindahtugaskan. Perwira itu tidak mau memberikan data kepada perwira lain yang meneruskan kasus teroris itu."Sehingga penyelidikan dilakukan dari awal. Dan ini memakan waktu yang lama lagi," kritik Kiki.
(nrl/)











































