Mau Berobat Alternatif, 2 Korban KRL Ngotot Cabut dari RS
Jumat, 01 Jul 2005 16:16 WIB
Jakarta -
Meski kondisinya belum stabil, dua pasien RS Pasar Rebo yang merupakan korban tabrakan KRL ngotot pulang. Mereka bersikeras mau berobat alternatif.Kedua korban adalah Margih, warga Srengseng Sawah Jagakarsa, yang mengalami benturan di bagian dada, dan Siti Masitoh, warga Citayam Bogor, yang mengalami trauma benturan di kepala."Tadi pagi sudah ada yang pulang, dua korban. Mereka nggak mau dioperasi, karena memilih pengobatan alternatif. Mereka mau ke Cimande," ungkap seorang suster jaga yang menolak disebutkan namanya di RS Pasar Rebo, Jakarta Timur, Jumat (1/7/2005).Peristiwa itu dibenarkan oleh Humas RS Pasar Rebo Deddy Suryadi. Ditegaskan dia, kedua korban tidak dipungut bayaran perawatan medis, karena biayanya akan ditanggung PT Jasa Raharja."Tapi mereka harus meneken surat pernyataan, apabila di kemudian hari ada akibat lanjutan, pihak rumah sakit tidak bertanggung jawab. Sebab mereka memaksakan diri untuk pulang, padahal belum diperbolehkan," jelas Deddy.Direktur RS Pasar Rebo drg Ahmad Husni MARS mengaku pihaknya tidak bisa melakukan apa-apa jika korban menolak dilakukan operasi, khususnya yang mengalami patah kaki."Tapi saya tidak akan mengizinkan mereka untuk dibawa keluar dulu, karena kondisi mereka belum stabil. Apalagi perjalanan ke Cimande jauh dan membutuhkan kendaraan khusus, tidak bisa begitu saja. Jadi seharusnya menunggu kondisinya stabil. Tapi kedua korban memaksa pulang," keluh drg Ahmad.Tapi sepertinya bukan Margih dan Siti Masitoh saja yang hendak berobat alternatif. Beberapa pasien lain maupun keluarga korban punya keinginan serupa. Namun sepertinya nasihat dokter dipatuhi dulu, yakni menunggu kondisi stabil."Saya sih mau saja dioperasi. Tapi keluarga bilang jangan dulu. Mereka mau bawa saya ke alternatif. Tadi malam sudah dironsen, kaki kanan saya patah dan bergeser," kata Ny Nuryani.Kaki kanan korban tabrakan yang dirawat di kamar 503 ini tampak masih disanggah dengan dua papan. Ny Nuryani ingin agar kakinya digips dulu oleh pihak rumah sakit. "Saya nunggu pengobatan medis dulu, nggak mau langsung pulang," ujarnya.Kondisi korban lainnya yang juga dirawat di kamar 503, Nurhaman, lebih parah dari Ny Nuryani. Dia mengalami patah tulang pada kedua kakinya.Mau dioperasi? "Nggak mau, maunya ke alternatif saja," sahut Nurhaman sambil mengerang menahan sakit.Sebanyak 27 korban tabrakan KRL di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 30 Juni 2005, dirawat di lantai 5, Ruang Cempaka, kamar 501-505, RS Pasar Rebo. Dua korban sudah pulang. Sementara di Ruang Dahlia, juga ada dua korban.
(sss/)










































