11 Orang yang Ditangkap Polri Diduga Terlibat Terorisme
Jumat, 01 Jul 2005 14:43 WIB
Jakarta - Musim penangkapan aktivis terkait tindak terorisme marak kembali menjelang pergantian Kapolri. Saat ini, sedikitnya 11 orang tercatat telah ditangkap oleh Tim Antiteror Mabes Polri di wilayah Solo, Jawa Tengah.Dari 11 orang yang ditangkap ini, 7 orang ditangkap di Wonogiri, 1 orang ditangkap di depan Rumah Sakit Islam Solo, 2 orang ditangkap di Pabelan, dan 1 orang lagi di Sragen."Data yang berhasil kami kumpulkan saksi-saksi yang melihat peristiwa tersebut, peristiwanya mirip dengan penculikan tahun lalu. Segerombol orang dengan senjata lengkap langsung mengambil paksa, tanpa ada surat penangkapan," kata Koordinator Front Perlawanan Penculikan (FPP) Surakarta, Kholid Saefullah saat dihubungi detikcom, Jumat (1/7/2005).Penangkapan dilakukan beruntun Rabu (29/6/2005) mulai pukul 13.50 WIB sampai 19.50 WIB. Modusnya juga sama. Dari laporan sejumlah saksi mata yang melapor kepada FPP, para pelaku penculikan mengaku sebagai aparat. "Ada yang mengaku dari Mabes, ada yang bilang sebagai anggota, ada juga yang hanya bilang polisi," jelas Khalid.Adapun sejumlah nama yang sudah diidentifikasi diambil paksa antara lain M Iqbal, Djoko Sumanto, Dani Chandra, Gino, Anto, Hana, Arif dan Joko Triyanto alias Har.Sampai saat ini, lanjut Khalid, FPP masih terus mengumpulkan keterangan dari jaringan mereka untuk memastikan jumlah serta nama-nama aktivis muslim yang diambil paksa. Kholid menceritakan salah seorang pria yang diambil paksa adalah Joko Triyanto, pria yang tiga tahun ikut mendirikan FPP. Sehari-hari, selain aktif di FPP, Joko juga memiliki counter HP di Alfa Gudang Rabat di Solo. Menurut Kholid yang menirukan penuturan saksi, Rabu sore sekitar pukul 16.30 WIB, sedikitnya empat orang berpakaian preman mendatangi dirinya yang tengah bekerja di tempat Joko. Heri Sutopo adalah karyawan Joko Triyanto. Kebetulan saat itu Joko tengah tidak berada di tokonya.Keempat orang ini menanyakan keberadaan Joko Triyanto (35), warga Purwosari, Solo kepada Heri, karyawannya. Karena tidak menemukan Joko, empat orang itu kemudian membawa paksa Heri ke sebuah mobil Toyota Kijang. Heri dibawa berputar-putar di sekitar Solo, dan baru dilepas di kawasan Kartasura karena tidak bisa menunjukkan Joko. Tak lama kemudian, Joko pun hilang. Pengambilan paksa juga dialami sejumlah aktivis muslim di Kabupaten Wonogiri. Sejumlah pria yang mengaku aparat dari Mabes Polri mendatangi rumah Djoko Sumanto (40), pemilik UD Masa, tinggal di RT 02 RW 03 Desa Pokoh, Kelurahan Wonoboyo, Kecamatan Wonogiri Kota, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.Sekelompok petugas yang mengaku dari tim Mabes Polri Jakarta itu, mendatangi rumah Joko di RT 02/RW III, Rabu (29/6/2005) pada sekitar pukul 16.00. Mereka datang dengan mengendarai empat mobil. Jenisnya ada Kijang, Panther dan sedan. Mereka mengaku dari Mabes dan langsung membawa Djoko dan seluruh karyawannya.Atas peristiwa tersebut, FPP menyesalkan berbagai penangkapan aktivis muslim tersebut. Jumat siang (1/7/2005), FPP melakukan aksi di Mapolwil Surakarta untuk mengecam keras aksi penangkapan tersebut. Mereka menuntut Densus 88 Antiteror Mabes Polri dibubarkan. "Mereka tidak menjalankan prosedur hukum yang berlaku," kata Khalid.Selain melakukan aksi, sehari sebelumnya, Kamis (30/6/2005), perwakilan FPP dan keluarga korban penangkapan mendatangi Mapolwil Surakarta. Keluarga Joko Priyanto yang diculik RSI Solo ikut serta. Mereka melaporkan telah terjadi penculikan oleh segerombol orang bersenjata mengatasnamakan dari Mabes Polri.Kapolwil Surakarta Kombes Pol Abdul Majib saat dihubungi detikcom melalui sambungan telepon mengaku belum dapat laporan mengenai adanya penangkapan terhadap sejumlah orang di wilayahnya. Demikian juga Kabag Intel Polwil Surakarta, Kompol Yudha Gustawan mengaku belum mendapat informasi atas penangkapan tersebut.
(jon/)











































