Besi Menimpa Kakinya, Steven Merangkak Keluar dari KRL
Jumat, 01 Jul 2005 14:07 WIB
Jakarta - Kedua kakinya tertimpa besi reruntuhan KRL. Dia menjerit minta tolong. Namun, orang-orang memilih menyelamatkan hidupnya masing-masing. Dia kemudian berjuang sekuat tenaga memindahkan besi yang menimpa kakinya itu. Kedua kakinya remuk. Dia kemudian merangkak keluar dari KRL.Itulah yang dilakukan Steven, remaja berumur 14 tahun, saat berjuang menyelamatkan hidupnya. Dia menjadi korban kecelakaan KRL di ruas rel Pasar Minggu-Tanjung Barat, Jakarta Selatan yang terjadi pada Kamis kemarin, 30 Juni 2005.Saat tabrakan KRL itu persis terjadi, Steven sempat tidak sadarkan diri. Pingsan. Begitu sadar, Steven langsung mengerang kesakitan. Besi menimpa kedua kakinya, sehingga kakinya tidak bisa digerakkan. Dia tidak berdaya.Steven sempat berteriak minta tolong berkali-kali kepada para penumpang lainnya. Namun, tidak ada yang menolong dirinya. Di tengah darah yang terus mengucur dari kedua kakinya, dengan tenaga yang masih tersisa, Steven berupaya menyingkirkan besi yang menimpanya itu.Setelah berjuang sekuat tenaga, Steven berhasil memindahkan besi itu. Dia terkejut dan menangis ketika melihat kedua kakinya remuk. Dia tidak bisa jalan. Namun dia masih ingin berjuang untuk menyelamatkan hidupnya.Lantas, ditanggalkanlah celananya di tempat itu, karena sudah bersimbah darah dan mengganggu. Setelah itu, dengan hanya bercelana dalam, Steven merangkak keluar dari gerbong KRL.Begitu sampai di pintu gerbong, sejumlah orang baru menolongnya. Di tengah hujan yang mengguyur deras, Steven dievakuasi ke RS Siaga, Pejaten, Pasar Minggu. Dia langsung ditangani di ruang ICU yang terletak di lantai dua.Menurut Yosias Syair Popar, ayahnya, Steven mengalami luka parah. Kaki sebelah kiri remuk, tulang keringnya nyaris putus. Sementara kaki sebelah kanannya lebih parah lagi, benar-benar remuk. Tulang keringnya sudah putus. Hanya tersisa satu pembuluh darah yang terbungkus kulit.Dia kehilangan banyak darah. Saat diintip detikcom dari jendela, Jumat (1/7/2005), Steven terbaring di ranjang, dengan dipasangi selang infus dan selang transfusi darah. Tubuhnya dihubungkan dengan mesin observasi.Yosias menjelaskan, saat kecelakaan terjadi, sebenarnya Steven sedang dalam perjalanan menuju rumah temannya yang beralamatkan di Jalan Sahardjo, Tebet. Dia seharusnya akan turun di Stasiun Manggarai. Tapi nasib ternyata berkata lain."Dia masih banyak teman di Jalan Sahardjo itu. Dulu saya memang tinggal di kawasan itu, tapi kini saya pindah ke Citayam. Karena itu, Steven masih punya banyak teman di sana. Katanya, dia kangen," ungkap lelaki yang berprofesi sebagai musisi ini.Yosias datang ke RS Siaga setelah diberitahu pihak RS bahwa anaknya dirawat. Saat Yosias datang ke RS, Steven tetap sadar. Bahkan, Yosias sempat tersenyum ketika anaknya itu berkata cukup lucu. "Pak, di celana saya yang tertinggal di kereta masih ada uang di kantong. Coba Bapak cari," kata Yosias menirukan Steven saat itu.Atas parahnya luka pada diri Steven, Yosias kini terus berdoa. Memang, pada Kamis, 30 Juni 2005, dokter mendatangi dirinya. "Dokter bilang ke saya, bagaimana ini Pak, pembuluh darahnya tinggal satu. Bagaimana kalau saya amputasi?" kata dokter kepada Yosias."Jangan dulu Pak Dokter, kasihan dia, masih muda," jawab Yosias saat itu. "Baiklah, kita lihat dulu selama lima hari. Kalau memang dalam lima hari, pembuluh darah di kaki kanannya bisa berfungsi, kita tidak akan amputasi," kata dokter seperti ditirukan Yosias.Yosias patut kecewa dengan buruknya manajemen KRL yang membuat Steven jadi korban. "Zaman canggih kok masih ada tabrakan KRL. PT Kereta Api harus bertanggung jawab," ujar dia.Mengenai biaya perawatan Steven, Yosias akan memegang janji pemerintah yang akan menggratiskan perawatan para korban. "Meski janji pemerintah itu hanya lisan, saya pegang janji itu," kata dia geram.Sekitar pukul 11.40 WIB, dokter yang menangani Steven, dr Jose Rizal, tampak melihat kondisi Steven. Saat ditanya apakah Steven akan diamputasi, dokter yang ahli dalam bidang orthopedi ini mengatakan, "Belum, belum. Kita akan cek dulu."
(asy/)











































