Dipertemukan dengan Bayinya, Ida pun Menangis Haru
Jumat, 01 Jul 2005 11:29 WIB
Jakarta - Di tengah musibah, sering ditemukan keajaiban-keajaiban. Apa yang dialami oleh Ida Nurhayati, termasuk salah satunya. Dia menjadi korban tabrakan KRL di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Dia memang mengalami luka di tangan dan kepalanya, tapi janin yang dikandungnya selamat.Saat kecelakan itu terjadi pada Kamis kemarin, 30 Juni 2005, Ida tengah hamil sembilan bulan. Saat itu, dia naik KRL Bogor-Kota dengan maksud menuju Muara Karang untuk membeli ikan yang akan dijualnya kembali di kampungnya di Bogor. Tapi Tuhan menentukan lain. Sebelum niat kulakan ikan itu terlaksana, dia harus menjadi korban tabrakan kereta.Akibat tabrakan KRL itu, ketuban Ida Nurhayati pecah. Dia langsung dilarikan ke RS Siaga yang berada di Jl. Siaga, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Dokter pun melakukan operasi caesar. Nyawa bayi perempuan itu pun terselamatkan. Bayi yang masih merah itu diberi nama Retno Kartika Dewi. Jumat (1/7/2005), sekitar pukul 09.30 WIB, Ida yang masih terkulai lemah di ruang perawatan di lantai 3 dipertemukan pertama kali dengan bayinya itu. Bayi mungil itu dibawa oleh perawat dan diantar oleh dr Yusuf ke ruang perawatan Ida. Begitu bayi itu didekatkan kepada dirinya, Ida tampak terharu. Dia tidak bisa membendung air matanya. Dia terus menciumi anak ketiganya itu. Suasana haru itu disaksikan keluarganya dan para wartawan. Dokter Yusuf menyatakan, bayi dengan berat 2,45 kg saat dilahirkan itu dalam kondisi sehat. "Meski beratnya 2,45 kg, tapi itu masih dalam kategori normal. Bayinya sehat," ujar dia. Tinggal 4 OrangDari 14 orang korban luka tabrakan KRL yang dilarikan ke RS Siaga, hingga pukul 11.00 WIB, tinggal empat orang yang dirawat. Keempat orang itu adalah Ida Nurhayati, Retno Kartika Dewi (bayi Ida), Steven, dan Dian Santi Prihantini. Steven, yang berusia 14 tahun, masih tergolek di ruang perawatan. Kedua kaki Steven mengalami luka parah. Saat ini, anak dari Kecamatan Citayam, Bogor ini sedang ditunggui ayah dan keluarganya. Sedangkan Dian Santi (31), masih belum stabil. Warga Kompleks Kejagung ini masih tampak trauma, sehingga perlu dilakukan perawatan. Dari 10 korban yang sudah meninggalkan RS Siaga, salah satunya dirujuk ke RSCM. Kesembilan korban lainnya sudah diperbolehkan pulang ke rumahnya masing-masing. Korban yang dirujuk ke RSCM ini bernama Usman (19). Remaja asal Jawa Tengah ini mengalami luka parah di seluruh wajahnya. "Dia perlu dibawa ke ICU, sehingga dirujuk ke RSCM," kata Nurul Hasanah, salah seorang staf di RS itu. Menurut Nurul, para korban tabrakan KRL tidak akan ditarik biaya apa pun. "Pemerintah akan membayarnya. Yang jelas, kita tidak akan menagih kepada pasien," kata dia. Meski begitu, hingga saat ini, terkait biaya perawatan para korban luka, baru PT Asuransi Jasa Raharja yang menghubungi RS Siaga. Pemerintah dan PT Kereta Api belum menghubungi RS Siaga.
(asy/)











































