Saya Tidak Mengira Masih Hidup

Korban KRL yang Selamat:

Saya Tidak Mengira Masih Hidup

- detikNews
Kamis, 30 Jun 2005 19:36 WIB
Jakarta - Harun, seorang pria separuh baya, tampak lusuh. Kemeja dan celana panjang sudah tidak dikenali lagi warna aslinya. Semuanya serba abu-abu. Saku celananya tampak robek memanjang.Warga Jl Tanah Abang II, Jakarta Pusat, itu nyeker. Sepatunya lepas entah ke mana. Celananya digulung hingga dengkul. Sekujur tubuhnya basah oleh hujan."Saya nggak nyangka masih hidup," katanya dengan wajah penuh kecemasan pada orang-orang yang tengah berkerumun di Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, Kamis (30/6/2005) pukul 19.00 WIB."Saya nggak percaya saya masih hidup, bisa bernafas. Saya pikir saya sudah mati... alhamdulillah," ulang Harun yang dijemput istrinya di Manggarai.Harun layak lega. Tabrakan maut KRL di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, melukai puluhan penumpang. Tapi Harun tidak luka berarti. "Saya pingsan 15 menit. Ketika sadar, di kanan kiri saya banyak orang pingsan. Ada yang di sebelah saya kaki kiri kanannya sudah buntung," cerita Harun dengan suara bergetar.Harun adalah penumpang KRL ekonomi 583. Dia naik KRL itu dari Depok, setelah menjenguk adiknya yang kakinya terluka karena kecelakaan motor. Saat itu semua gerbong terisi penumpang. harun berdiri di gerbong pertama. Gerimis juga datang."Setelah melewati Tanjung Barat, tiba-tiba KA saya mengerem mendadak. Saya dan penumpang yang lain terdorong ke depan. Lalu terdengar tubrukan keras. Semuanya berteriak-teriak. Lalu semuanya gelap, saya pingsan," tutur Harun.Ketika tersadar seperempat jam kemudian, gerbong-gerbong tampak tidak beraturan. "Saya berzikir sambil berusaha keluar gerbong," katanya. Harun keluar dengan memanjat bagian-bagian gerbong hingga menuju pintu keluar. "Saya sudah nggak ingat sepatu saya. Ini saya baru beli sandal," akunya sambil memperlihatkan sandal jepitnya."Saya lihat dari luar KA, banyak orang yang masih pingsan di gerbong. Banyak yang terjepit. Ada ibu hamil yang kepalanya terkulai, entah sudah meninggal atau belum," sambung Harun dengan mata berkaca-kaca.Tak kuat melihat suasana yang mengibakan itu, Harun segera pulang.Dia minta dijemput istrinya di Stasiun Manggarai. Harun lantas menumpang Mikrolet M-16.Istri Harun tampak terharu melihat suaminya hanya menderita memar dan kuping pengang. "Saya sudah nangis-nangis tadi. Saya kira Bapak kenapa-kenapa," kata perempuan itu. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads