DetikNews
Selasa 27 Maret 2018, 08:24 WIB

Mengenang Probosutedjo

Kampus Mercu Buana Lahir di Bekas Lahan Tukang Judi

Aryo Bhawono - detikNews
Kampus Mercu Buana Lahir di Bekas Lahan Tukang Judi Kampus Universitas Mercu Buana (Foto: Dok. UMB)
Jakarta -

Probosutedjio memiliki kebiasaan memborong tanah dengan keuntungan yang ia dapatkan selaku pengusaha. Suatu ketika ia didatangi seorang penjudi yang sedang butuh uang, Wong To Fek. Ia menawarkan tanah persawahannya seluas 100 hektare di Meruya, Jakarta Barat, dengan harga Rp 200 juta. Tanah itu disebutnya berada di kawasan Jakarta Barat.

Kala itu memasuki akhir tahun 1970-an, Probo mengambil tawaran Wong walau tak tahu persis lokasi tanah itu. Hubungan keduanya tak berhenti pada jual beli. Alberthiene Endah menuliskan dalam buku Saya dan Mas Harto: Memoar Romantika Probosutedjo, Probo bekerja sama dengan Edi Darma dan Wong untuk memulai bisnis real estate. Tanah itu dijual dalam bentuk kavling.

Usaha ini sukses, bidang demi bidang terjual hingga Probo teringat cita-citanya membangun universitas. Ia-pun meminta kedua rekan bisnisnya untuk menyisihkan sebidang tanah untuk membangun sebuah universitas.

"Maka tersedialah tanah seluas lebih dari 5 ha yang akhirnya saya manfaatkan untuk membangun Universitas Mercu Buana (UMB)," aku Probo dalam buku itu.

Adik mantan Presiden Soeharto itu merangkul Begawan Ekonomi Prof Soemitro Djojohadikusumo untuk menjadi pembina dan mantan Gubernur Sumatera Barat Harun Zein menjadi rektornya. Keduanya mengelola kampus dengan sedemikian rupa hingga dapat menerjemahkan keinginan Probo untuk pendidikan.

Soemitro yang juga besan Soeharto, dapat menekankan karakter disiplin ilmu dan Harun dapat mengelola kampus dengan baik. Ia menyerahkan jabatan kepada Suharyadi dengan kondisi sudah berkembang.

Ekonom Senior Institue for Development of Economics and Finance (INDEF) Prof Didik J. Rachbini menyebutkan jerih payah UMB dilalui sepanjang masa Orde Baru. Mahasiswanya sangat sedikit dan tak mendapat bantuan pemerintah. Tetapi berkat bantuan keuangan dari kocek pribadi Probo, aktivitas universitas itu dapat bertahan.

"Dulu mahasiswanya cuma 140 orang, sekarang ribuan dan waktu itu kami tidak dapat bantuan pemerintah karena universtas swasta diibaratkan perguruan tinggi kelas dua," kata Didik melalui telepon kepada , Senin (26/3/2018).

Ia menyebutkan Probo memiliki cita-cita untuk membuka pendidikan kepada semua orang. Tekad membangun universitas murah ini dibawanya setelah berpengalaman dengan pahit getirnya menjadi guru. Makanya ketika dibuka, biayanya dibuat sangat murah.

Didik bergabung ke UMB pada 1995 sebagai Dekan Fakultas Ekonomi. Jabatannya terus merangkak naik menjadi wakil rektor pada 1997.

Menurutnya pilihan Probo merangkul begawan akademik sangat tepat. Selain Soemitro dan Harun, rektor Suharyadi dapat mengembangkan universitas itu. Apalagi ada Sri Edi Swasono yang menekankan pendidikan ekonomi kerayatan.

"Kampus ini berbiaya murah dan bisa dicicil. Bayangkan saja untuk sarjana master bisa dicicil tiap bulan satu juta rupiah, itu kan untuk mengontrak apartemen tidak cukup di Jakarta," jelasnya.

Walau murah, UMB sekarang itu mendapat status yang tinggi untuk membina kampus daerah. Dulu seperti IPB membina Universitas Lampung dan Tadulako. Universitas ini menjadi universitas utama membina kampus NTB dan daerah luar Jawa. Tugas pembinaan ini diberikan oleh pemerintah.

Alberthien Endah menuliskan Probosutedjo memang mencurahkan sebagian uangnya untuk pendidikan. Tanahnya seluas 6 ha di Lenteng Agung, Jakarta Selatan ia sumbangkan untuk mendirikan Universitas Pancasila. Hal itu dilakukan setelah tak jadi mengembangkan pabrik kompos bersama mantan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. Selain itu tanahnya di Sumatera Utara disumbangkan untuk membangun Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU).




(ayo/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed