detikNews
Sabtu 24 Maret 2018, 12:41 WIB

Arief Effect, Cerita tentang Revolusi Senyap di Dapur Polri

Audrey Santoso - detikNews
Arief Effect, Cerita tentang Revolusi Senyap di Dapur Polri Peluncuran buku 'Arief Effect: Revolusi Senyap di Dapur Polri'
Jakarta - Asisten Kapolri Bidang SDM, Irjen Arief Sulistyanto, meluncurkan buku berjudul 'Arief Effect (Setahun Revolusi Senyap di Dapur Polri)'. Irjen Arief menggandeng wartawan senior Farouk Arnaz sebagai penulis bukunya.

"Para karo (kepala biro) SDM ini anak buah kapolda, tapi sekarang kalau ada perintah-perintah-perintah yang tidak benar, mereka sudah berani mengatakan ini tidak benar dan saya harus laporkan dulu ke As SDM. Ketika buku ini akan di-launching saya ragu-ragu, jangan sampai ada pemikiran 'mau ngapain Arief bikin buku?'. Yang saya ingin sampaikan di kepolisian sekarang ini sudah ada perubahan," kata Arief dalam acara peluncuran bukunya.

Peluncuran buku ini diselenggarakan di Lantai 4, Perpustakaan Nasional, Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu (24/3/2018) pagi ini. Buku setebal 181 halaman ini berisi sekumpulan cerita Arief yang berupaya memperbaiki sistem SDM di tubuh Polri.

"Kami (SDM Polri) semuanya tidak risi dengan semua kritikan itu karena itulah yang membuat saya merasa tidak sendiri. Selama ini saya dikatakan 'kamu sendirian kalau bersikap itu'. Ternyata saya tidak sendirian. Cukup setahun sudah terjadi satu perubahan," ujar dia.

Arief Effect, Cerita Tentang Revolusi Senyap di Dapur PolriPeluncuran buku 'Arief Effect: Revolusi Senyap di Dapur Polri'


Arief menganalogikan kebobrokan kondisi di internal Polri sebagai kendaraan yang kondisinya buruk. Dia pun menganalogikan dirinya sebagai sang montir.

"Saya sering diberikan 'mobil' oleh pimpinan, metromini yang tidak jalan, mesinnya mesin bajaj. Kalau dijalankan pasti mogok. Gimana caranya saya buat jalan dulu dan nyaman. Saya buat mesin itu mesin Mercy sehingga siapapun yang naik akan mudah, nyaman dan lajunya kencang," tutur jenderal bintang dua itu.

Salah satu perubahan yang dibuat Arief adalah pada sistem rekrutmen Akademisi Kepolisian (Akpol). Dalam buku Arief Effect halaman 84, diceritakan bagaimana Arief berusaha memegang teguh profesionalismenya merekrut calon-calon perwira Polri.

"Meski itu teman saya sendiri, saya tidak mau dihubungi (kalau mau nitip-nitip). Saya punya tanggung jawab moral. Ini soal Polri ke depan mau jadi apa," ucap Arief dikutip detikcom dari Halaman 84, Buku 'Arief Effect'.

"Ada yang takut mendekati saya, lalu mendekati pejabat lain. Percuma saja. Saya akan pegang teguh sumpah itu, sehingga seluruh tahapan seleksi dari awal sampai akhir kami pegang komitmen pertahankan integritas," lanjut Arief dalam kutipan halaman 84 buku itu.

Eks Koordinator Kontras Haris Azhar, dalam sesi bedah buku, mengatakan seluruh polisi di Indonesia harusnya mencontoh mental Arief. Haris menilai gebrakan Arief membersihkan KKN di sistem SDM Polri tak lepas dari bantuan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

"Harusnya polisi di tempat lain seperti ini. Saya mau ngomong terbuka saja, backup-nya Pak Arief ini Pak Tito. Kalau nggak ada Pak Tito, habis semua ini. Dalam konteks melihat sesuatu yang institusional, sistemik seperti yang dilakukan Pak Arief, itu backup-nya Pak Tito. Kenapa saya appreciate Pak Arief dan kawan-kawan? Karena saya merasa itu paling tepat saat ini," tandas Haris yang diundang sebagai pembedah buku 'Arief Effect'.

Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Arief Zulkifli sebagai pembedah buku pun mengenal Irjen Arief sebagai polisi yang profesional. Dia mengaku kenal cukup lama dengan sosok Irjen Arief.

"Kalau kita bicara panjang lebar tentang terobosan Mas Arief di SDM, itu bukan ujug-ujug. Kalau saya baca bukunya, Mas Arief terutama melakukan transparansi rekrutmen. Lalu pembenahan mental, personel. Yang lain saya kira yang tidak ditulis, seperti Mas Arief melakukan desentralisasi jalan karier seseorang polisi," terang Arief Zulkifli.

"SSDM telah menjadi etalase keseluruhan Polri. Etalase tentunya yang baik kan? Tapi tidak hanya etalasenya yang penting, substansinya juga penting," lanjut Arief.

Pembedah buku lainnya, Harris Turino menilai Arief selalu berhasil memimpin satuan Polri yang dikepalainya. Namun dia menilai Arief selalu gagal mencari pengganti yang bisa 'seirama' dengan sikap kepemimpinannya.

"Arief ini berhasil untuk memimpin organisasi yang dipimpin. Tapi saya bilang Arief ini berkali-kali gagal memilih penggantinya," ungkap Harris.

Dia berharap sistem yang diperbaiki Irjen Arief dapat diteladani pengganti-penggantinya kelak saat Arief meninggalkan jabatan As SDM Polri.

"Setelah kita melakukan pendalaman, melalukan wawancara-wawancara, saya temukan banyak hal yang tidak dilakukan di masa lalu dan saat ini dilakukan oleh Pak Arief. Di era Pak Arief, hal-hal seperti ini ada. Misalnya pengumuman nilai, pengumuman ranking terbuka," sambung dia.

Buku 'Arief Effect' juga dikomentari Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Tito mengakui keputusannya memilih Arief sebagai As SDM tepat karena Arief berhasil membenahi sistem di tubuh Polri.

"Pilihan saya tidak salah. Karena sejak menjabat sebagai As SDM Polri, Arief melakukan berbagai perbaikan mulai dari rekrutmen yang bersih dengan sistem teknologi informasi, pembinaan karier yang berdasarkan merit system dan perbaikan mentalitas anggota Polri. Perlahan perubahan terjadi danbmembuat sistem manajemen personel Polri menjadi semakin baik," ucap Kapolri Jenderal Tito Karnavian, dikutip oleh detikcom dari sampul belakang buku 'Arief Effect'.

Wakapolri Komjen Syafruddin pun turut menuangkan komentarnya. Jenderal bintang tiga itu berpendapat rekruitmen Akpol 2017 adalah rekruitmen terbaik.

"Saya menilai dan merasakan bahwa tahun 2017 ini adalah tahun yang terbaik. Paling tidak di lima tahun terakhir dari 2012-2017, ini yang terbaik dari semua seleksi, walaupun tidak ada kesempurnaan," komentar Syafruddin yang juga dituangkan di cover belakang buku.

Acara peluncuran buku juga dihadiri beberapa tamu spesial bagi Irjen Arief seperti Komisioner Kompolnas Irjen (Purn) Bekto Suprapto.

"SDM ini perilubahannya luar biasa. Saya berkeliling dan bukan hanya polisi, masyarakat juga menyampaikan kepada Kompolnas," kata Bekto Suprapto dalam sesi bedah buku.

Pantauan detikcom di lokasi, anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PDI Perjuangan Eva K Sundari, Direktur Setara Institute Hendardi dan Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto.

Setelah acara launching buku, Irjen Arief mendapat kejutan di mana rupanya hari ini, 24 Maret 2018, 'sang montir' berulang tahun ke-53. Irjen Arief nampak terkejut dengan adanya video parodi ucapan ulang tahun dari jajaran SSDM.
(aud/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed