Krisis AIDS Mengancam Negara-Negara Muslim
Kamis, 30 Jun 2005 08:00 WIB
Jakarta - Krisis Aquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) mengancam negara-negara Muslim. Namun, para pemimpin negara Muslim justru tetap menyangkal dan tidak banyak bertindak untuk menghentikan masalah serius ini.Jika para pemimpin negara-negara Muslim tetap tidak mengindahkan masalah ini, AIDS dapat banyak membunuh penduduk berusia 15-49 tahun. Negara-negara Muslim akan kehilangan orang-orang terbaik, cerdas, dan produktif secara ekonomi. "Pesan penting untuk seluruh negara Muslim adalah tingkah laku masyarakat yang berlawanan dari apa yang diharapkan bagi seorang Muslim yang taat," kata Direktur Biro Nasional Riset Amerika untuk negara-negara Asia Micahel Birth, seperti dikutip dari kantor berita AFP,Kamis (30/6/2005).Menurut Birth, pemerintah negara-negara Muslim lamban menanggapi penyebaran penyakit ini. Padahal masyarakat Muslim terlibat dalam tingkah laku yang berbahaya dalam penularan dan penyebaran virus HIV/AIDS. Dengan terlibatnya dunia muslim, maka krisis AIDS merupakan krisis global."Kami mengira negara-negara Muslim terbebas dari penyakit mematikan ini, tapi berita yang menyedihkan menyatakan tidak," jelas Birth. Negara Muslim memiliki jumlah penduduk 1 triliun yang tersebar pada tiga benua. Mulai dari Albania dan Turki di Eropa, Afrika Utara, Teluk Persia dan Malaysia serta Indonesia di Asia Tenggara.Badan PBB untuk masalah AIDS memperkirakan pengidap HIV/AIDS untuk Afrika Utara, Timur Tengah, dan negara Muslim di Asia mencapai 1 juta orang. Pada akhir tahun 2003 saja, terdapat 420.000 orang mengidap AIDS di Mali, 180.000 orang di Indonesia, 150.000 orang di Pakistan, dan 61.000 orang di Iran. Sedangkan pengidap HIV/AIDS di Turki, Afghanistan, dan Somalia luput dari penghitungan. "Jumlah tersebut adalah hitungan kasar," tandas Birt
(atq/)











































