detikNews
Sabtu 24 Maret 2018, 05:07 WIB

Cita Rasa Asli Indonesia, Kunci dalam Diplomasi Kuliner

M Aji Surya - detikNews
Cita Rasa Asli Indonesia, Kunci dalam Diplomasi Kuliner hef kondang William Wongso saat memberikan paparan mengenai diplomasi kuliner Indonesia di Pusdiklat Kemlu (Foto: M Aji Surya/detikcom)
Jakarta - Promosi kuliner Indonesia di luar negeri harus dapat dilakukan tanpa menghilangkan orisinalitas rasa. Selain itu, diplomasi kuliner Indonesia hendaknya dilakukan dengan pendekatan budaya.

Itulah salah satu dari sekian banyak rekomendasi yang disampaikan chef kondang William Wongso saat memberikan paparan mengenai diplomasi kuliner Indonesia kepada diplomat muda peserta Sekolah Staf Dinas Luar Negeri (Sesdilu) Angkatan ke-60, Jumat (22/3/2018) di Pusdiklat Kemlu, Jakarta.

Lebih lanjut Chef Wongso menerangkan bahwa cita rasa makanan khas Indonesia dapat menjadi salah faktor pemantik wisman berkunjung ke Indonesia.


Oleh karena itu chef Wongso berpandangan rendang dapat dijadikan sebagai ujung tombak diplomasi kuliner Indonesia karena kompleksitas variasi dan rasa. Selain memiliki lebih dari 120 jenis, masakan khas Sumatera Barat ini juga ditasbihkan CNN sebagai masakan paling enak di dunia.

"Diplomat harus memiliki sensibilitas dan pengetahuan akan adat dan kebudayaan di negara setempat," tukas Chef Wongso.

Kuliner Indonesia sendiri pada dasarnya dapat diberikan sentuhan modern yang disesuaikan dengan kebiasaan setempat. Sebagai contoh, Chef Wongso pernah mencoba mempromosikan rendang Sumatra Barat di Namibia menggunakan daging daging antelop jenis Kudu, Oryx, Eland, dan Wildebeest yang biasa disantap masyarakat setempat.

Dia mengatakan cita rasa kuliner Nusantara bisa jadi pemicu kedatangan wisatawan mancanegara ke IndonesiaDia mengatakan cita rasa kuliner Nusantara bisa jadi pemicu kedatangan wisatawan mancanegara ke Indonesia (Foto: M Aji Surya/detikcom)


Chef Wongso juga menggambarkan betapa hebatnya kluwek Indonesia yang bisa menghasilkan rasa umami sehingga tetap menjaga cita rasa gurih rawon asal Jawa Timur, meski tidak dibuat dengan daging.

Penjelasan Chef Wongso tentang cara inovatif mempromosikan diplomasi kuliner Indonesia semakin mendorong rasa ingin tahu para peserta Sesdilu. Terbukti dari banyaknya pertanyaan yang diajukan.

"Khusus untuk kuliner khas Batak, masakan apa yang punya potensi untuk dipasarkan di luar negeri?," kejar Judika yang kebetulan putra asli Tapanuli.

Terkait dengan strategi pemasaran diplomasi kuliner, Chef Wongso menegaskan Indonesia perlu belajar dari kesuksesan beberapa negara tetangga. Kuliner Indonesia sudah sejak lama dibawa ke mancanegara oleh diaspora Indonesia, namun masih belum banyak dikenal. Faktor penyebabnya antara lain kurang berperannya diaspora Indonesia, minimnya pasokan bumbu asli Indonesia, dan belum adanya kebijakan diplomasi kuliner yang komprehensif.


Di Asia, India dan Vietnam menjual paket wisata kuliner unik di mana para wisatawan asing dapat menjelajah beragam street food (jajanan kaki lima) dengan menggunakan motor. Namun sayangnya, paket wisata seperti ini nampaknya belum pernah digarap di Indonesia.

Terakhir, Chef Wongso merekomendasikan agar restoran Indonesia yang sudah ada di luar negeri dapat diberdayakan dengan menyuguhkan 30 ikon kuliner tradisional Indonesia yang sudah ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata sejak tahun 2013 silam.

Pada akhirnya Chef Wongso mengharapkan dengan menyasar komunitas diaspora Indonesia, diplomat diharapkan untuk aktif dan piawai dalam mempromosikan kultur kuliner Indonesia di luar negeri.
(jbr/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed