Cerita pilu Heri terjadi pada bulan April 2010 lalu. Akibatnya, ia dua bulan dirawat di rumah sakit. Sisanya, ia rawat jalan karena sebagain badan masih terdapat luka bakar.
Setahun kemudian ia membaik. Ia pun berpikir soal menyambung hidup dan berpenghasilan. Heri kemudian memutuskan membuat warung yang dibantu oleh ayahnya. Jualan seadanya, di depan rumah, menggunakan sistem yang ia sebut SMS (sudi melayani sendiri).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Waktu ibu masih sehat, jualan gorengan dan uduk, sekarang hanya jajanan biasa. Rokok juga paling dua bungkus sehari," kata Heri saat ditemui wartawan di kediamannya, Anyer, Kabupaten Serang, Banten, Jumat (23/3/2018).
Penghasilan sedikit itu menurutnya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Paling tidak, untuk dirinya, dan kedua orang tuanya yang sudah berumur.
Beberapa tahun lalu, ia pernah ikut pengukuran tangan palsu yang dilakukan pihak desa. Namun entah kenapa, sampai sekarang tangan palsu harapannya tak kunjung juga datang. Jika memang ada bantuan, maka ia ingin tangan palsu guna membantu dagangannya.
"Pernah ada pengukuran, dibilangnya percuma karena fungsinya, karena nggak ada sikunya (sendi)," katanya.
Meski terbentur keterbatasan, Heri mengaku akan tetap berjualan. Ia bercita-cita, jika punya modal, akan berjualan keliling atau membuat kios di pinggir jalan. (bri/asp)











































