Bareskrim Pantau Terus Para Penyebar Hoax di Medsos

Denita Matondang - detikNews
Jumat, 23 Mar 2018 11:07 WIB
Kabareskrim Komjen Ari Dono (Rina Atriana/detikcom)
Kabareskrim Komjen Ari Dono (Rina Atriana/detikcom)
Jakarta - Bareskrim Polri terus mengawasi aktivitas kelompok penyebar hoax dan ujaran kebencian di media sosial. Bareskrim akan menindak penyebaran hoax.

"Kalau bicara tugas reserse itu menemukan faktanya baru melihat dan menilai apakah itu ada perbuatan pidana atau tidak. Kan hanya dinamika orang itu (berpindah-pindah dari Saracen ke MCA) perbuatan pidana apa yang dilakukan, (anggota) itu yang kita tegakkan," kata Kabareskrim Polri Komjen Ari Dono Sukmanto di gedung KKP, Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (23/3/2018).



Komjen Ari menegaskan pihaknya masih memburu oknum pengendali utama kelompok penyebar hoax dan ujaran kebencian Muslim Cyber Army (MCA).

"Masih dalam penggalian informasi terhadap pelaku (pengendali MCA) yang ada juga dengan jaringan-jaringan yang ada," kata Ari.

Polri sebelumnya merilis hasil penyelidikan maraknya isu penyerangan ulama dalam kurun Februari. Hasilnya, eks Saracen dan MCA adalah dalang di balik berkembangnya isu tersebut.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan kelompok-kelompok itu berusaha menciptakan isu nasional di mana ada serangan sistematis terhadap ulama. Kelompok ini kemudian membuat isu seolah pelakunya adalah kelompok penganut paham komunis.

"Sehingga menjadi isu nasional, sehingga publik terpengaruh opini bahwa telah terjadi penyerangan yang sangat sistematis dengan target ulama. Dan kemudian kambing hitamnya terhadap kelompok tertentu, PKI," terang Tito saat menjadi pembicara dalam kegiatan pengajian di gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jumat (9/3).



Tito mengatakan latar belakang tindakan kelompok Saracen dan MCA adalah ingin membuat opini di tengah masyarakat di mana pemerintah seolah tak kredibel menjalankan tugas. Ujungnya, masyarakat menuntut adanya pergantian pemerintahan.

"Isu media sosial ini kita dalami lagi, apa motifnya terjadi serangkaian serangan udara (dunia maya). Setelah didalami komunikasinya, tujuannya agar pemerintah dianggap tidak kredibel, kemudian supaya nanti ada pergantian pemerintahan dan lain-lain. Berarti motif politik," ujar Tito. (fdn/fdn)