DetikNews
Jumat 23 Maret 2018, 09:46 WIB

Jurus Koopetisi untuk Hindari Indonesia Bubar di 2030

Aryo Bhawono - detikNews
Jurus Koopetisi untuk Hindari Indonesia Bubar di 2030 Andhika Akbaryansyah/detikcom
Jakarta -

Pengamat Politik Denny Januar Ali berharap semua pihak tak mengkhawatirkan kisah bubarnya Indonesia dalam novel fiksi ilmiah berjudul 'Ghost Fleet'. Novel yang berkisah tentang perang masa depan antara Republik Rakyat China dan Amerika Serikat tersebut sudah dibacanya pada 2017. Kisah bubarnya Indonesia hanya ditulis sebagai pembuka dan tidak dikaji secara mendalam.

"Soal Indonesia sebenarnya disinggung lebih sebagai pembuka dan sambil lalu. Topik utama novel itu justru menceritakan bangkitnya China selaku superpower yang bahkan melampaui Amerika Serikat," tulisnya dalam situs inspirasi.co, September 2017.

Denny, yang dihubungi detikcom, Kamis (22/3/2018), menganggap konsep negara gagal sendiri masih kontroversial dalam perdebatan konsep politik. Terminologi kegagalan negara masih longgar dan sulit membuat ukuran. Sebagian akademisi membuat ukuran kuantitatif dan merumuskan dalam Fragile State Index, dan Indonesia masih dalam posisi aman di urutan ke-94 dari 178 negara yang diukur.

Namun, meski hanya menjadi pembuka cerita, pemerintah dan semua pihak harus menganggap kisah itu sebagai alarm tanda bahaya. Pasalnya, novel tersebut ditulis oleh Peter Warren Singer dan August Cole. Keduanya memiliki rekam jejak sebagai ahli ilmu politik dan pertahanan di AS. Pandangan keduanya sangat mempengaruhi kebijakan pertahanan.

Bubarnya sebuah negara terekam dalam sejarah modern dunia, seperti Uni Soviet dan Yugoslavia. Kisah bubarnya Indonesia dalam novel 'Ghost Fleet' lebih baik cukup dipakai sebagai peringatan oleh pemerintah ataupun berbagai pihak.

Menurut Denny, ada tiga faktor yang menyebabkan negara bubar, yakni kemerosotan ekonomi, kombinasi isu primordial, dan pemerintah pusat kehilangan legitimasi. Catatan inilah yang seharusnya diperhatikan oleh pemerintah dan tokoh politik. "Pada negara gagal, tiga variabel ini datang sekaligus," jelasnya.

Indonesia sendiri tengah memasuki masa politik yang cukup panas pada 2019. Denny mewanti-wanti agar pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 tak kembali terulang dalam pesta demokrasi nasional. Perpecahan dalam masyarakat sangat terasa hingga saling bermusuhan.

Ia menyarankan siapa pun yang bertarung dalam Pilpres 2019 kelak dapat saling menerima hasilnya. Jika tidak, sakit hati akan menjadi pemicu perpecahan dan menggerogoti legitimasi pemerintah yang terbentuk nantinya.

"Saya menyebutnya koopetisi, berkompetisi sekaligus bekerja sama, kooperasi. Jadi yang kalah tetap menerima kemenangan pihak lawan sehingga tidak ada lagi perpecahan," jelasnya.




(ayo/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed