Pesan Cak Roes Soal Soeharto dan Reformasi Tambal Sulam
Rabu, 29 Jun 2005 18:54 WIB
Jakarta -
Tetap concern dengan perkembangan politik tanah air. Begitulah Cak Roes semasa hidupnya. Tokoh 45 ini pun meninggalkan pesan kepada bangsa Indonesia.Mengenai masalah Soeharto, pria bernama lengkap Roeslan Abdulgani ini berpesan agar dilakukan rekonsiliasi. Dia mengajak semua pihak untuk tidak melihat kesalahan masa lalu dari kacamata sekarang."Kita harus melihat kesalahan seseorang itu ada penyebabnya. Rekonsiliasi juga harus berjalan dengan tidak saling menghujat," kata putri kedua Cak Roes, Wati Knapp, mengutip pesan ayahnya.Bagaimanapun, tutur Wati, nama-nama pemimpin terdahulu tidak bisa dihapus begitu saja, termasuk Soekarno dan Soaharto, dalam sejarah Indonesia. Karena mereka adalah bagian besar dalam sejarah tanah air."Rekonsiliasi juga berarti memahami apa sih kebaikan dari Soeharto dan apa kelemahannya, sehingga bisa kita pelajari dan mengambil kebaikannya. Dengan begitu kita bisa memaafkan kekurangannya," kata Wati yang ditemui di rumah duka, Jalan Diponegoro 11 Jakarta Pusat, Rabu (29/6/2005).Menurut Cak Roes, seperti disampaikan Wati, rekonsiliasi juga berarti menilai sejarah secara wajar, sehingga bangsa ini bisa terus maju."Usia Pak Harto kan sudah lanjut. Bapak itu paling tidak bisa melihat kalau orang yang sudah tua dibegitukan (dihujat) sama anak muda," ujar Wati.Mengenai sistem politik sekarang, pria yang menghembuskan nafas terakhir di usianya yang ke-91 ini ternyata memiliki pandangan yang cukup kontroversial."Kalau begini-begini terus tidak stabil, menurut Bapak, lebih baik mengadakan revolusi, tapi bukan revolusi fisik. Yang sekarang kan hanya reformasi, itu cuma memperbaiki sistem yang ada. Istilah Bapak, hanya menambal sulam," papar Wati.Revolusi yang dimaksud Cak Roes, jelas Wati, kalau sistemnya sudah bobrok, lebih baik dibikin yang sama sekali baru. Bisa dilihat apakah membongkar sistem dan menggantinya akan lebih murah atau mahal, ketimbang terus-menerus bobrok."Bapak melihat kelemahan sistem sekarang, hukum sudah bobrok, sudah tidak bisa lagi dijadikan panutan. Rasa nasionalisme sudah berkurang. Kalau dulu zaman penjajahan, semua rakyat Indonesia merasa senasib. Sekarang yang paling berpengaruh dalam sistem ini adalah uang. Kalau ada uang bersatu, kalau tidak ada, ya gontok-gontokan," tutur Wati.
(sss/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































