"Saya melihat bahwa apa yang diamati pengamat sosial, termasuk pimpinan di Jakarta, selalu mengatakan Banten rawan, tertinggal, terbelakang. Kesannya selalu daerah yang konflik," kata Wahidin Halim di Makorem 064/Maulana Yusuf Banten, Serang, Kamis (22/3/2018).
Bahkan, menurutnya Banten selalu disamakan dengan daerah Papua. Entah dalam hal kesejahteraan maupun dalam keamanan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Persepsi inilah yang selanjutnya membuat Banten disebut dengan daerah rawan sebagaimana Bawaslu menilainya saat Pilkada lalu.
Di satu sisi, sebagai daerah yang luas dengan perairan yang panjang, Banten juga menurut Wahidin dipimpin oleh dua Polda dan satu Kodam. Yaitu Polda Metro Jaya dan Polda Banten dan Pangdam Siliwangi.
Padahal, ia sendiri berharap ada satu lembaga keamanan misalkan satu Kodam dan satu Polda di Banten.
"Saya berharap ke depan satu Polda, Satu Pangdam (red: Kodam)," katanya.
"Bagusnya dengan persepsi itu kita selalu waspada, orang lihat Banten lihatnya selatan. Ternyata waktu Pilkada tidak ada kerawanan," ujarnya lagi.
Dari sisi masyarakatnya, Ia juga mengatakan Banten baik-baik saja, ulamanya baik, hubungan antar agama juga tidak pernah konflik. Buktinya, saat ini menurtnya Banten ada di posisi ke tiga investasi secara nasional. Rp 18 triliun investor sudah siap menanamkan modalnya di Banten.
Di tempat yang sama, Wahidin mengatakan pergantian Danrem dari Kolonel Czi Ito Hediarto ke Kolonel Czi Budi Hariswanto bisa berjalan dengan lebih baik. Apalagi, selama ini koordinasi antara Korem dan Polsa selama ini khususnya pengamanan Pilkada berjalan dengan lancar.
"Dengan Danrem baru koordinasi bisa lebih baik," katanya. (bri/asp)











































