Sidang Setya Novanto

Hakim Minta Setya Novanto Buka Catatan Buku Hitamnya

Faiq Hidayat - detikNews
Kamis, 22 Mar 2018 10:37 WIB
Setya Novanto dan buku hitamnya (Foto: Nur Indah Fatmawati/detikcom)
Jakarta - Selama menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Setya Novanto selalu membawa sebuah buku hitam. Buku itu disebut-sebut berisi catatannya terkait kasus korupsi proyek e-KTP.

Saat menjalani pemeriksaan sebagai terdakwa hari ini, Novanto diminta untuk mengungkapkan isi dari buku itu. Apa saja isinya?

"Dulu catatan saudara mau buka pas pemeriksaan ini, waktu dikonfrontir Chairuman bilang 'saya buka di sidang', bisa disampaikan apa yang dicatat?" tanya hakim pada Novanto dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (22/3/2018).


"Jadi di situ ada tanggal penyerahan, kedua sampai keempat, saya jelaskan tadi bagian JC saya sampaikan," jawab Novanto.

Hakim kembali meminta Novanto untuk mengungkapkan isi dari catatan itu. Namun, Novanto menyebut buku hitamnya yang berisi soal pertemuan dengan Made Oka Masagung, Andi Agustinus alias Andi Narogong, dan Irvanto Hendra Pambudi itu sudah diserahkan ke KPK.

"Terima kasih tidak mengurangi rasa hormat memang semua pertemuan betul-betul ada hanya masalah berkaitan ada menyampaikan uang ke saya pihak Oka dan Irvanto agar diputuskan hakim dan JPU. Saya siap mengganti sebagai wujud saya kontribusi pemberantasan korupsi," tutur Novanto.

Hakim menanyakan apakah buku hitam itu sebenarnya berkaitan dengan perkara tersebut atau tidak. Menurut Novanto, nanti biarkan jaksa KPK saja yang mengungkapkan.


"Catatan itu bisa mendukung dakwaan, artinya catatan tidak membantu dan mendukung dakwaan untuk apa?" ujar hakim.

"Jadi ini catatan ini saya buat, saya ingat dan doa itu hal sampaikan. Harapan bisa membantu JPU untuk membuka selebar-lebarnya," jawab Novanto.

"Jadi biar nanti JPU yang buka ya?" tanya hakim.

"Iya, yang mulia," jawab Novanto lagi.

Dalam perkara ini, Novanto didakwa melakukan intervensi dalam proses penganggaran dan pengadaan barang/jasa proyek e-KTP. Novanto juga didakwa menerima USD 7,3 juta melalui keponakannya Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, dan orang kepercayaannya, Made Oka Masagung. (fai/dhn)