DetikNews
Rabu 21 Maret 2018, 19:48 WIB

Dituding Gerindra Bangun Dinasti Politik, PD Ungkit Klan Kennedy

Gibran Maulana Ibrahim - detikNews
Dituding Gerindra Bangun Dinasti Politik, PD Ungkit Klan Kennedy Wasekjen PD Rachland Nashidik (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta - Partai Gerindra melalui Wasekjen Andre Rosiade menuding Partai Demokrat (PD) ingin membentuk dinasti politik karena terlalu mengobral Ague Harimurti Yudhoyono. Wasekjen PD Rachland Nashidik menyebut dinasti politik bisa menjadi positif, mengambil contoh keluarga Kennedy di pusaran Presiden Amerika Serikat.

"Kendati saya bisa bilang 'dinasti politik' bisa positif--contohnya keluarga Kennedy di AS atau keluarga Trudeau di Kanada--namun saya menganggap lebih penting untuk mengoreksi kontradiksi dalam cara berpikir Wakil Sekjen Gerindra," ujar Rachland kepada wartawan, Rabu (21/3/2018).

Bagi Rachland, tudingan dinasti politik ala Andre sangat tak masuk akal. Menurutnya, sistem demokrasi membuat rakyat berdaulat menentukan pemimpin mereka.


Rachland lalu mengungkit beberapa pemimpin negara yang merupakan keturunan bapak bangsa. Sebut saja Megawati Soekarnoputri, putri Presiden RI Sukarno.

"Ibu Megawati. Untuk menjadi Presiden, beliau harus ikut pemilu. Tak peduli ayahnya adalah pendiri bangsa dan presiden pertama yang berkuasa dua puluhan tahun," jelas Rachland.

Saat pemilu pertama digelar, sebut Rachland, rakyat memberi mandat bukan kepada Mega. Seorang Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), katanya, bisa terpilih jadi presiden tanpa embel-embel atau latar belakang yang mirip-mirip kedinastian politik.

"Begitulah: tak ada 'darah biru' dalam demokrasi. Sepanjang sebuah negara masih mempraktikkan demokrasi, jelas kedudukan presiden tidak bisa diwariskan turun temurun seperti halnya mahkota dalam dinasti kerajaan," tegas dia.

Tuduhan Andre dianggap Rachland kosong dan mencerminkan kemacetan pikiran. Rachland lalu membahas Agus Harimurti Yudhoyono, putra SBY yang disebut-sebut Andre jadi 'jalan' PD untuk membangun dinasti politik.

Seperti katanya di atas tadi, tak ada yang namanya pewarisan tahta kekuasaan di negeri ini. Semua pemimpin harus melalui proses demokrasi bernama pemilihan umum untuk mendapatkan kepercayaan rakyat.

AHY sendiri pernah maju di Pilgub DKI Jakarta 2017 lalu dan kalah di putaran pertama, sebelum Anies Baswedan-Sandiaga Uno melanggeng bebas ke Balai Kota. Fakta tersebut menurut Rachland ialah penegasan kalau tak ada namanya dinasti politik.

Dilanjutkannya, AHY dalam dunia politik sekarang juga tak begitu saja diterima partai politik untuk bisa maju Pilpres 2019, meski di beberapa lembaga survei elektabilitasnya sebagai cawapres tergolong tinggi. Akhir kata, Rachland sangat heran dengan tudingan Andre.

"Mungkin Wasekjen Gerindra, daripada buang waktu mencemooh partai lain, lebih baik mempelajari tradisi partai-partai politik di negara-negara demokratik. Menarik bahwa di sana, ketua umum partai berganti bila gagal memenangi pemilu," pungkasnya.
(gbr/dkp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed