ADVERTISEMENT

'Diserbu' Warga, Paus yang Terdampar di Bengkulu Tinggal Tulang

Herianto Batubara - detikNews
Rabu, 21 Mar 2018 18:05 WIB
Paus sperma terdampar di pantai Bengkulu. (Foto: dok. BKSDA Bengkulu)
Kaur - Seekor paus sperma sepanjang 12,5 meter terdampar di pantai wilayah Kabupaten Kaur, Bengkulu. Warga setempat mengambili kulit paus ini.

"Sekarang tinggal tulang-tulang saja," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kaur, Edward Happy, saat dihubungi detikcom lewat telepon, Rabu (21/3/2018).

Edward menjelaskan paus sperma ini sudah dalam kondisi mati. Saat terdampar, kondisi paus masih utuh. Namun kemudian warga berdatangan dan mengambil kulit paus ini.


"Sama masyarakat sudah diambilin semua. Namanya masyarakat dilarang juga nggak mau kan. Katanya mau butuh kulit saja. Dibikin minyak," jelasnya.

Ditanya penyebab kematian paus ini, Edward mengaku belum mengetahuinya. Dia menilai paus ini baru mati sekitar dua hari.

Kematian paus sperma yang terdampar di wilayah Bengkulu ini berdekatan dengan kematian paus di wilayah Bali. Sebelumnya, seekor paus sperma juga mati terdampar di wilayah Buleleng, Bali, Senin (19/3). Paus ini panjangnya sekitar 15 meter dan berbobot sekitar 10 ton.


Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana, yang juga dosen pascasarjana Universitas Indonesia, Sutopo Purwo Nugroho, mengomentari fenomena ini. Menurutnya, kematian paus sperma di wilayah Bengkulu dan Bali ini tidak berkaitan. Kecil kemungkinan kematian mamalia ini karena kondisi laut yang tercemar sampah.


"Nggak ada kaitannya. Samudera Hindia dan Laut Bali di Buleleng cukup bersih. Kemungkinan komunitas paus yang terdampar di dua tempat itu juga beda," ujar Sutopo saat dihubungi detikcom.


Sutopo mengaku telah melihat kondisi fisik bangkai paus sperma yang terdampar di Bengkulu. Menurutnya, tidak terlihat adanya sampah pada tubuh paus sperma ini.

"Yang di Bengkulu tidak ditemukan sampah di dalam perutnya. Laut juga masih baik kualitasnya. Biasanya paus terdampak karena terpisah dari populasinya atau karena sakit," ujarnya. (hri/imk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT