DetikNews
Rabu 21 Maret 2018, 16:17 WIB

Polri: Hoax Ujaran Kebencian Turun, Muncul soal Telur Palsu

Audrey Santoso - detikNews
Polri: Hoax Ujaran Kebencian Turun, Muncul soal Telur Palsu Kadiv Humas Polri sekaligus Kasatgas Pangan Irjen Setyo Wasisto (Foto: Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta - Polri menyebut penyebaran hoax tentang ujaran kebencian menurun setelah Muslim Cyber Army (MCA) terbongkar. Namun setelah itu, muncul hoax lain seperti isu telur palsu.

"Kalau hoax yang jenis ujaran kebencian, SARA turun. Tapi hoax lain muncul, meningkat, yaitu hoax masalah pangan, (isu) telur (palsu) merebak di mana-mana," kata Kadiv Humas Polri sekaligus Kasatgas Pangan Irjen Setyo Wasisto di Gedung Rupatama, Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (21/3/2018).

Setyo meyakini isu telur palsu bohong belaka. Setyo menyebut keyakinannya itu bersandar pada biaya membuat telur palsu yang lebih mahal daripada harga telur asli.


"Saya minta kalau ada info di mana telur palsu, tolong sampaikan, karena saya meyakini tidak ada telur palsu. Karena teknologi membuat telur palsu jauh lebih mahal dari harga telur asli itu sendiri," kata Setyo.

Menurut Setyo, isu itu menimbulkan keresahan masyarakat. Selain itu, Setyo mengatakan isu itu berdampak buruk bagi kalangan peternak telur.

"Sekarang peternak telur mengeluh karena ada isu ini. Kalau lama-lama, peternak bisa bangkrut," ucap Setyo.

Untuk itu, Setyo mengaku telah meminta Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri untuk menyelidiki sumber yang menyebarkan isu tersebut. Salah satu pelaku yang telah dibongkar di Sumbawa disebut Setyo hanya berlandaskan keisengan.

"Saya minta Ditsiber cari di mana (sumber penyebaran hoaxnya, red). (Penyebar hoax) yang di Sumbawa sudah minta maaf. Motifnya iseng saja. Kita akan selidiki lagi," tutur Setyo.

[Gambas:Video 20detik]


Setyo pun meminta publik untuk mencari informasi yang resmi apabila mendapati isu-isu semacam ini. Dia khawatir isu-isu yang tak bertanggung jawab itu bisa berdampak besar di kemudian hari.

"(Pembelian telur) Ini sekarang sudah jauh menurun karena mereka ragu-ragu. Dari pasar induk mau beli, nanya 'ini telur asli apa palsu', ini bahaya. Beberapa waktu lalu ada beras palsu. Nggak mungkin ada beras palsu. Diwaspadai ini ada upaya-upaya jangka panjang dengan menakut-nakuti ada telur palsu, kemudian orang tua nggak mau berikan asupan gizi dengan protein murah. Dengan adanya isu, konsumsinya menurun. Akan berdampak 25 tahun akan mendatang, generasi kita akan jadi generasi kekurangan protein," ujar Setyo.

"Kalau ditemukan ada telur diduga palsu, segera ke dinas kementerian terdekat. Saya meyakini tidak ada telur palsu," imbuh Setyo.

Setyo mengatakan isu telur palsu membawa efek domino yang buruk. Selain masyarakat yang resah, menurutnya, perekonomian juga dapat terganggu.

"Kalau (isu telur palsu) ini diterima, terus kemudian orang tua ragu ragu-ragu beli telur, peternak akan hancur," kata Setyo.

Setyo melanjutkan jika peternak telur merugi, maka akan terjadi pengurangan jumlah anggota karyawan, yang akhirnya menyebabkan adanya pengangguran. "Kedua berdampak ke tenaga kerja. Kalau berdampak ke tenaga kerja, berpengaruh ekonomi," sambung dia.

Setyo mengungkapkan omzet peternak telur turun sebanyak 30 hingga 40 persen akibat merebaknya isu telur palsu. "Kalau di rata-rata (omset menurun) 30, 40 persen," ujar Setyo.
(aud/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed