DetikNews
Rabu 21 Maret 2018, 12:20 WIB

103 Peneliti Kaji Cuaca Ekstrem yang Berasal dari Samudra Hindia

Denita Matondang - detikNews
103 Peneliti Kaji Cuaca Ekstrem yang Berasal dari Samudra Hindia Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal memakai batik biru. (Tengah). (Denita/detikcom)
Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggelar seminar International Indian Ocean Expedition 2 (IIOE-2). Seratusan peneliti Indonesia dan internasional yang akan meneliti cuaca ekstrem di Samudra Hindia terlibat dalam acara ini.

Acara ini berlangsung sejak Senin (19/3) hingga Jumat (23/3) mendatang di Hotel Grand Mercure, Kemayoran, Jakarta Pusat. Acara ini digelar guna melaporkan dan mengevaluasi pelaksanaan program-program riset atas aktivitas laut di Samudra Hindia.


Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal mengatakan IIOE-2 melibatkan 50 peneliti internasional dan 53 peneliti dari akademisi hingga lembaga riset yang ada di Indonesia. Para peneliti itu akan mengamati bidang oseanografi dan atmosfer dari wilayah pesisir sampai laut Samudra Hindia dalam kurun 5 tahun.

"Dari penelitian itu akan diperoleh aktivitas Samudra Hindia, seperti arus laut ataupun pengaruhnya terhadap iklim dan ekosistem laut," Kata Herizal di gedung BMKG, Jakarta Pusat, Rabu (21/3/2018).

Herizal menilai Indonesia perlu meneliti kawasan Samudra Hindia. Sebab, aktivitas laut di Samudra Hindia memiliki dampak besar terhadap iklim dan cuaca ekstrem di beberapa negara, terutama Indonesia.

"Misalnya siklon tropis, kekeringan, hujan lebat, gelombang tinggi, atau badai," ucapnya.


Di tempat yang sama, Kepala Pusat Penelitian Oseanografi (P20) LIPI Dirhamsyah mengatakan pihaknya juga telah melakukan penelitian sejak 2015 di perairan laut di Mentawai, Enggano, dan Aceh. Penelitian itu bekerja sama dengan Singapura dan Prancis untuk mendeteksi sumber tsunami dan gempa di barat Sumatera.

"Untuk mendorong penelitian Samudra Hindia juga sedang dibangun Stasiun Penelitian Sabang. Saya harapkan dengan adanya stasiun ini ke depan penelitian mengenai Samudra Hindia semakin baik. Kita bisa memahami interaksi komponen-komponen yang ada di laut. Dengan demikian, kita juga bisa menyiapkan mitigasi bencana yang mungkin ditimbulkan, seperti gempa bumi, cuaca ekstrem, atau tsunami," ucap Dirmansyah.
(idh/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed