Pimpinan Ponpes Menikahi, Keluarga Munafiah Merasa Tenang

Pimpinan Ponpes Menikahi, Keluarga Munafiah Merasa Tenang

- detikNews
Selasa, 28 Jun 2005 19:27 WIB
Semarang - Keluarga Munafiah merasa lega, setelah pimpinan Pondok Pesantren Manbaul Ulum, Genuk, Semarang, KH Masykuri menikahi Munafiah. Nikah siri sudah dilakukan pada Senin (28/6/2005) malam. Munafiah adalah salah seorang guru ngaji di pondok itu. Dia diketahui tiba-tiba hamil di luar nikah. Perempuan berusia 25 tahun itu telah melahirkan bayinya pada Jumat (24/6/2005) lalu. Mengetahui Munafiah telah melahirkan tanpa nikah, Warga Tenggaron Lor, Kecamatan Genuk langsung bereaksi. Warga menuding KH Masykuri-lah yang menghamili Munafiah, meski mereka miskin bukti. Mereka menduga hal itu hanya karena sering melihat Masykuri (48) dan Munafiah sering pergi berdua. Massa sempat mengancam akan membakar pondok pesantren yang dipimpinnya itu, bila Masykuri tidak bertanggung jawab. Hingga sekarang, siapa yang menghamili Munafiah masih misteri. Masykuri tidak bisa ditemui. Namun, menurut polisi, Masykuri membantah menghamili Munafiah. Sedangkan, Munafiah mengaku telah dihamili tukang ojek bernama Slamet. Tapi, keberadaan Slamet tidak-lah jelas. Akhirnya, dalam pertemuan yang difasilitasi Polsek Genung di Kantor Kelurahan Tenggaron Lor, Senin (27/6/2005), Masykuri bersedia menikahi Munafiah. Meski dia tidak mengakui menghamili Munafiah. Tapi, karena desakan warga, dia akhirnya pasrah. Mahmudi, paman Munafiah, saat ditemui detikcom, Selasa (28/6/2005) di rumahnya, di Jl. Kenanga V RT 2/II, Tenggaron Lor, Genuk, sekitar 1 km dari Ponpes Manbaul Ulum membenarkan kesediaan Masykuri itu. "Betul, tadi malam bahkan sudah melakukan nikah siri. Jadi, Munafiah dengan Kiai Masykuri sudah resmi sebagai suami istri," kata Mahmudi. Dengan kesediaan Kiai Masykuri ini, pihaknya mulai merasa tenang. Sebab, gejolak di masyarakat yang sebelumnya terjadi, kini sudah mereda. Mahmudi menyatakan, sejak awal pihak keluarga ingin menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan. Sebab, pihak keluarga memang tidak punya bukti yang kuat kalau Masykuri yang menghamili Munafiah. "Hanya ada asumsi-asumsi di masyarakat. Tapi, kami sendiri tidak tahu faktanya," jelas dia. Mahmudi menceritakan, sejak lulus SD, Munafiah sudah mengaji di Ponpes Manbaul Ulum dan membantu keluarga KH Masykuri. Munafiah sangat sering datang ke ponpes. Hingga akhirnya, Munafiah diberi kepercayaan menjadi guru ngaji. "Hubungan mereka, seperti ayah dan anak, karena sudah sering kali ketemu," ungkap dia. Tentang kehamilan kemenakannya itu, Mahmudi tidak mengetahui dari awal. Pernah Mahmudi membawa Munafiah ke dokter kandungan, setelah ada desas-desus bahwa Munafiah hamil. Tapi, ternyata hasilnya negatif. Tapi, masyarakat tetap curiga. Akhirnya lama kelamaan, perut Munafiah tampak sedikit membuncit. "Kami berupaya akan membawanya kembali ke dokter, eh malah Jumat sudah melahirkan," kata Mahmudi. Saat melahirkan bayinya, usia kandungan Munafiah baru 7 bulan. Mengenai pernikahan secara resmi, Mahmudi mengaku belum tahu kepastiannya. "Yang jelas, kami sekeluarga sudah lega, karena secara hukum agama dan kesepakatan kemarin, keduanya sudah sah menjadi suami-istri," ujar dia. Saat ini, Munafiah menumpang di rumah pamannya, Alwan. Rumah Alwan tidak jauh dari Mahmudi, hanya terpaut 10 meter. Saat detikcom bertandang ke rumah Alwan, Munafiah sedang tidak ada di tempat, karena sedang ke dokter. Yang ada, hanya keluarga Alwan dan bayi Munafiah yang diberi nama Umi Lafia. Menurut Mahmudi, sejak beberapa waktu lalu, kondisi Munafiah memang labil. Hingga saat ini, kondisinya juga masih seperti. "Kadang-kadang kalau bicara ngacau," kata Mahmudi. Saat diwawancarai, keterangan Mahmudi memang berbeda dengan keterangan pada Senin (27/6/2005) malam saat bersama-sama warga mendatangi ponpes Manbaul Ulum. Dia mengaku saat itu, dia sedang bersama warga yang berdemo, sehingga juga terbawa emosi. "Sekarang saya sudah pasrah dengan kesepakatan warga," kata dia. (asy/)


Berita Terkait