Gatot Nurmantyo Banyak Logistik, Tiket Capres dari Mana?

Elza Astari Retaduari - detikNews
Jumat, 16 Mar 2018 07:41 WIB
Gatot Nurmantyo. Foto: Aditya Fajar/detikcom
Gatot Nurmantyo. Foto: Aditya Fajar/detikcom
Jakarta - Jelang masa pensiun dari TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo mulai mengeluarkan sinyal akan maju di Pilpres 2019. Disebut punya banyak logistik untuk dana maju pilpres, Gatot masih belum mengantongi tiket untuk maju karena hingga kini tak ada tanda-tanda ada parpol yang hendak mengungnya.

Moda logistik Gatot diungkap oleh Kivlan Zen yang memberikan dukungannya kepada mantan Panglima TNI itu. Dia menyatakan kekayaan Gatot lebih besar dari Ketum Gerindra Prabowo Subianto yang digadang-gadang siap kembali maju di Pilpres mendatang.



"Perkiraan saya, nggak usah disebutkanlah, Gatot uangnya banyak, melebihi uang Prabowo," ujar Kivlan setelah menghadiri acara silaturahmi tokoh nasional menuju Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta Pusat.

Pernyataan Kivlan ini ditanggapi nyinyir oleh Gerindra. Partai pimpinan Prabowo ini pun lalu mengingatkan soal kendaraan partai yang harus dimiliki Gatot untuk bisa maju sebagai capres ataupun cawapres.

"Sekarang modal uang bisa beli partai berapa?" ujar Waketum Gerindra Sufmi Dasco Ahmad.

Gerindra pun sudah memastikan menutup pintu untuk jenderal bintang empat itu. Gatot sendiri baru akan pensiun dari TNI di akhir bulan Maret nanti.

"Jadi Pak Gatot punya tugas berat untuk meyakinkan partai-partai yang memiliki kursi di DPR untuk mau mendaftarkan Pak Gatot sebagai capres. Jika ditanya Gerindra, kami di Gerindra tetap berkomitmen memperjuangkan Pak Prabowo sebagai capres," ungkap Wasekjen Gerindra Aryo Hashim Djojohadikusumo.

"Jadi peluang Pak Gatot tertutup kalau ingin maju dari Gerindra," imbuhnya.

Seperti diketahui, syarat untuk maju sebagai pasangan capres-cawapres harus memenuhi presidential threshold 20-25 persen. Itu berarti pasangan yang akan maju harus memenuhi minimal dukungan parpol atau gabungan parpol dengan 20 persen kursi di DPR atau 25 persen suara nasional Pemilu 2014.

Gatot yang datang dari latar belakang militer harus mendapat dukungan dari parpol untuk bisa maju di Pilpres. Sementara di sisi lain, mayoritas parpol saat ini sudah menentukan pilihannya. Seperti Presiden Joko Widodo yang sudah mendapat dukungan dari PDIP, Golkar, NasDem, PPP, dan Hanura. Kemudian PKS sudah memastikan akan berkoalisi dengan Gerindra dengan mengusung Prabowo.

Saat ini hanya tinggal PKB, PAN, dan Demokrat yang belum menentukan sikapnya. Namun PKB sudah memberi sinyal siap kembali mendukung Jokowi di Pilpres 2019 dengan menawarkan sang ketum, Muhaimin Iskandar (Cak Imin) sebagai cawapres.

Salah satu yang mempertanyakan tiket Gatot adalah Partai Golkar. Meski mengapresiasi niat maju Gatot, partai pimpinan Airlangga Hartarto itu mengingatkan Gatot untuk mencari 'perahu' maju di Pilpres.

"Dalam UU Pemilu dibutuhkan dukungan partai politik. Dukungan partainya (untuk Gatot) dari mana? Partai Golkar sudah tidak bisa pindah ke lain hati. Golkar sudah bulat dukung Pak Jokowi," sebut Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily.

Gatot sendiri diprediksi akan menjadi lawan untuk Jokowi. Jenderal bintang empat tersebut dinilai tidak mungkin berpasangan dengan presiden petahana.

"Kalau ke Pak Jokowi kayaknya nggak mungkin, basis pemilih Pak Gatot benar-benar anti-Jokowi," ujar Direktur Eksekutif Lembaga Median Rico Marbun.

Gatot sudah angkat bicara soal kabar rencana pencalonannya di Pilpres 2019. Dia meminta publik menunggu dirinya benar-benar pensiun dari TNI.

"Kita lihat nanti. Apabila rakyat menghendaki, lain ceritanya," kata Gatot di acara Mata Najwa, yang disiarkan langsung oleh Trans7, Rabu (14/3) kemarin.

"Sekarang saya masih menjadi seorang prajurit. Tetapi ya, apabila rakyat menginginkan, itu menjadi tanggung jawab," pungkasnya. (elz/bag)