Setkab soal Pria Ngaku Stafsus Jokowi: Ini Modus Penipuan

Mei Amelia R - detikNews
Kamis, 15 Mar 2018 18:14 WIB
Sahistya Kurniawan, pria yang mengaku sebagai Stafsus Jokowi (Mei Amelia/detikcom)
Sahistya Kurniawan, pria yang mengaku sebagai Stafsus Jokowi (Mei Amelia/detikcom)
Jakarta - Pihak Sekretariat Kabinet (Setkab) RI menegaskan Sahistya Kurniawan (37) bukan Staf Khusus Presiden. Setkab juga menegaskan kartu pengenal Stafsus Presiden pun palsu.

"Kami mewakili Setkab ingin meluruskan, tersangka bukan Stafsus Presiden," kata Kepala Bagian Organisasi Tata Laksana Sekretariat Kabinet Faisal Amir kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (15/3/2018).

Faisal mengatakan, Stafsus Presiden terdiri atas delapan orang. "Kalaupun ada Stafsus Presiden Bidang Intelijen, itu ada Diaz Hendropriyono dan Gories Mere.

"Kami jelaskan bahwa Stafsus Presiden itu ada delapan orang. Kalaupun ada bidang keintelijenan, ada Pak Hendro Priyono dan Pak Gories Mere. Jadi nggak ada lagi (selain Gories dan Diaz Hendropriyono)," katanya.

Faisal juga menegaskan tanda pengenal yang dimiliki Sahistya adalah palsu dan berbeda dengan yang asli. Tanda pengenal Stafsus dan Setkab tidak bisa dipalsukan.

"Tanda pengenal kami tidak bisa dipalsukan, ada perbedaan mencolok yang tidak bisa dipalsukan, salah satunya ada hologramnya," imbuhnya.

Pihaknya meminta masyarakat tidak mempercayai setiap bentuk penipuan yang mengatasnamakan Stafsus Presiden. Penipuan yang mencatut Stafsus ini bukan pertama kalinya.

"Penipuan dengan modus ini sudah sering sekali, sehingga kami imbau masyarakat tidak percaya begitu saja. Kami memiliki website resmi, jadi masyarakat bisa lihat di situ," ungkapnya.

Sahistya ditangkap Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya karena mengaku-aku sebagai Stafsus Presiden Bidang Intelijen. Setidaknya sudah dua orang yang tertipu olehnya.

"Dia mengaku bisa menjadikan orang sebagai Stafsus Presiden asalkan memberikan sejumlah uang," kata Wakil Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary Syam Indradi.

Sementara itu, Sahistya sendiri mendapatkan tanda pengenal dan senjata api karet dari seseorang berinisial H. Dia membayar Rp 5 juta untuk mendapatkan itu.

Atas kasusnya ini, Sahistya dijerat dengan Pasal 263 KUHP dan/atau 378 KUHP tentang Penipuan dan/atau UU Darurat No 12 Tahun 1951 atas kepemilikan senjata api. (mei/dnu)