Hasilnya kemandirian kota gagal diraih Depok karena terus hanya menggantungkan kebutuhan Jakarta tanpa menata kemandirian selayaknya kota.
"Dalam realitasnya Depok menjadi bagian dari megapolitanisasi Jakarta. Posisi Depok yang demikian akan senantiasa membuat Depok sulit mandiri, dan tetap tergantung pada kota megapolitan Jakarta," tulisnya.
Depok, semula milik warga Belanda, Cornelis Chastelein. Dia menghadiahkannya kepada orang-orang sipil Belanda dan bumiputera yang dianggap berjasa. Mereka dikenal sebagai 'Belanda Depok'.
Foto: Mindra Purnomo |
Depok berasal dari singkatan bahasa Belanda, "De Eerste Protestantse Organisatie van Kristenen". Artinya urang lebih "jemaat Kristen yang pertama". Tak heran bila di masa itu (1816-1942) ada nama Jalan Kerkstraat -dalam bahasa belanda- artinya Jalan Gereja. Kini, nama itu berubah menjadi Jalan Pemuda. Immanuel, gereja tertua di Depok juga berdiri di sana.
Salah satu kritik terhadap Depok adalah tingkat kemacetan yang tak tertahankan. Tak cuma pagi dan sore saat jam-jam sibuk, tapi juga di akhir pekan. Sebab lau pertambahan kendaraan pribadi nyaris tak diimbangi dengan pembangunan jalan. Bila pada 2010 ada 613.487 motor dan mobil 87.503 mobil, empat tahun kemudian jumlahnya membengkak menjadi 817.850 motor dan 155.510 mobil. Sementara angkutan umum dalam kurun waktu 2010-2014 jumlahnya sebanyak 6.508 unit.
Belum lagi pertumbuhan hunian vertikal dalam bentuk hotel dan apartemen. Tak cuma berjejer di sepanjang jalan utama, Margonda Raya, tapi ada yang menyusup hingga ke pemukiman warga. Sejarawan JJ Rizal menuding kehadiran hunian vertikal ini telah mengancam perkampungan di Depok. Kehidupan mereka benar-benar terlepas dari keintiman hubungan warga. Pemerintah sendiri tak tegas dalam menentukan peruntukan lahan makanya daerah pemukiman di Kota Depok kini turut terancam pembangunan gedung.
"Pemerintah cuek, pengusaha tidak mengindahkan mana yang benar. Mereka masuk ke wilayah paling intim, kampung, ini gila," tegasnya. (ayo/jat)












































Foto: Mindra Purnomo