2 Warga Tewas Diserang, Mengapa Harimau Bonita Tak Ditembak Bius?

2 Warga Tewas Diserang, Mengapa Harimau Bonita Tak Ditembak Bius?

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Senin, 12 Mar 2018 10:49 WIB
2 Warga Tewas Diserang, Mengapa Harimau Bonita Tak Ditembak Bius?
Foto: Dok. BBKSDA Riau
Pekanbaru - Harimau bernama Bonita diduga sudah melakukan penyerangan yang membuat dua korbannya tewas di Riau. Tim di lokasi berulang kali berjumpa dengan Bonita. Tapi mengapa tidak ditembak dengan senjata bius?

Banyak masyarakat awam menilai Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau lambat dalam penanganan konflik harimau vs manusia di Desa Tanjung Simpang Kanan, Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Inhil. Padahal, tim BBKSDA Riau dibantu pihak kepolisian dan TNI setempat acap kali berjumpa Bonita. Namun setiap kali berjumpa, tim tidak melakukan penembakan bius. Lantas apa alasannya?

Kepala BBKSDA Riau, Suharyono mengatakan, bahwa di lokasi konflik kini sudah ada tim medis. Senjata khususus untuk melakukan penembakan bius juga sudah dipersiapkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tapi kan untuk melakukan penembakan itu harus diperhitungkan secara matang, mulai ukuran dosis bius yang harusnya juga menyesuaikan dari ukuran harimau itu sendiri. Sebab, bila kebanyak dosis juga berisiko buat harimau, bisa tewas," kata Haryono.

Itu baru persoalan takaran dosisnya. Ini belum soal batas waktu reaksi dosisnya. Andaikan dilakukan penembakan bius, normalnya obat bius membutuhkan waktu.

"Sebelum obat biusnya bereaksi, tentunya harimau ini akan berlari. Dan tim belum tentu bisa secepatnya untuk mengikuti gerakan harimau itu," kata Haryono.

Bila sudah tertembak bius, bisa jadi harimau berlari dengan jarak yang jauh. Kondisi itu tentunya tim harus mencari kembali keberadaannya.

"Boleh jadi tim akan berhasil menemukan harimau yang sudah ditembak bius itu. Tapikan bisa saja saat tim menemukannya, harimau tadi sudah siuman kembali. Nah, ini tentu ada risiko buat tim saat bertemu lagi," kata Haryono.

Karena itulah, urusan tembakan bius bukan segampang yang dibayangkan banyak orang.

'Kita harus cermat melihat situasi dan kondisi di lapangan. Semua persiapan untuk itu terus kita lakukan," kata Haryono.

"Misalkan Bonita lari terus pingsan, kita nyari-nyari pas sudah dapat, dia sudah bangun. Bisa dibayangkan risikonya. Makanya saya sampaikan, membius itu perlu pertimbangan yang sangat cermat," kata Haryono.

Sebagaimana diketahui, Bonita sudah memakan korban dua nyawa manusia. Pertama Jumiati, karyawan perusahaan sawit yang teas diserang pada 3 Januari 2018 lalu. Selanjutnya, Yusri yang tewas diserang pada Sabtu (10/3/2018).

Hingga kini, Bonita masih berkeliaran di sekitaran pemukiman penduduk dan perkebunan sawit yang ada di sana. Lokasi konflik ini terjadi di Kec Pelangiran, Kab Indragiri Hilir (Inhil) Riau. (cha/asp)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads