DetikNews
Senin 12 Maret 2018, 09:38 WIB

Kisah Maulidar yang Terjun Mengajar Para Pemulung Aceh

Agus Setyadi - detikNews
Kisah Maulidar yang Terjun Mengajar Para Pemulung Aceh Maulidar, perempuan muda yang mengajar pemulung Aceh (agus/detikcom)
Aceh - Perempuan muda itu berdiri di depan puluhan anak-anak yang duduk beralaskan tikar. Sebuah papan tulis warna putih menghadap bocah-bocah usia sekolah dasar tersebut. Dia mengajar dengan ramah. Meski sesekali bau sampah tercium, mereka di sana belajar dengan penuh semangat.

Pemandangan di atas merupakan pemandangan sehari-hari Maulidar Yusuf (27), pengajar suka rela bagi anak-anak pemulung. Sejak tujuh tahun silam, Maulidar mendirikan Taman Edukasi Anak Pemulung yang terletak di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Desa Kampung Jawa, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh. Di sana, berbagai mata pelajaran diajarkannya saban sore.

"Keinginan saya mengajar di sini yang pertama biar orang ini pinter, biar ada perubahan juga dengan kondisi keluarga mereka yang serba keterbatasan, kita membantu pendidikan mereka," kata Maulidar saat ditemui, Jumat (9/3/2018).
Kisah Maulidar yang Terjun Mengajar Para Pemulung Aceh

Maulidar sudah membentuk taman belajar bagi anak-anak pemulung ini sejak masih duduk di bangku kuliah. Setiap kali mengajar, suamianya Aiyub Bustamam (30) ikut menemaninya. Anak-anak didiknya pun kini sudah semakin akrab dengan Maulidar.

Di sana, perempuan yang tinggal di Lampulo, Banda Aceh ini mengajar dari Rabu hingga Minggu sejak usai salat Asar hingga menjelang Magrib. Sejumlah pelajaran yang diajarkannya mulai dari matematika hingga Ilmu Pengatahuan Alam (IPA). Jumlah siswa yang hadir pun setiap hari mencapai 40 hingga 50 orang.

Sebelum membuka kelas private di sana, Maulidar terlebih dulu melakukan survei di beberapa lokasi. Namun dia kemudian jatuh hati dan mempunyai tekad untuk mengajarkan anak-anak pemulung. Warga yang tinggal di sana pun menyambut baik kehadiran Maulidar.

"Motivasinya kuncinya peduli. Itu motivasi besar saya. Dengan melihat mereka yang merupakan calon generasi penerus mereka harus lebih baik dengan kondisi mereka saat ini," jelas alumni Bahasa Inggris UIN Ar-raniry ini.

Anak-anak yang ikut belajar di sana rata-rata pada pagi harinya belajar di sekolah-sekolah formal. Meski demikian ada juga dua siswa yang tidak sekolah sama sekali. Penyebabnya, karena faktor ekonomi.
Kisah Maulidar yang Terjun Mengajar Para Pemulung Aceh

Maulidar berkisah, pernah ada anak yang belajar bersamanya selama tujuh tahun tapi ketika duduk di bangku SMP terpaksa meninggalkan bangku sekolah karena orang tuanya tidak sanggup membiayai. Mereka akhirnya memilih ikut memulung bersama orang tuanya.

"Tujuh tahun mereka bersama kita, sekarang ada yang tidak sekolah lagi terputus sampai SMP. Penyebabnya tentu faktor ekonomi keluarga. Anak yang kami ajarkan ada yang sudah besar, dan ini anak-anak generasi baru yang kami ajarkan," ungkap Maulidar.

Kini, Maulidar mengajar anak-anak pemulung ini dibantu oleh beberapa relawan. Pada Senin dan Selasa, Maulidar mengatur jadwal para relawan dan saat hari belajar mengajar mereka langsun ke lapangan.

"Banyak relawan yang hadir, komunitas juga hadir, misalnya organisasi mahasiswa mereka datang mengajar. Ada juga kelompok-kelompok yang datang kadang-kadang mereka membagi mukena, alat tulis, buku tulis dan sebagainya," jelas Maulidar.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed