DetikNews
Minggu 11 Maret 2018, 17:16 WIB

Kapolri Ancam Copot Kapolda yang Tak Bisa Cegah Konflik Sosial

Ristu Hanafi - detikNews
Kapolri Ancam Copot Kapolda yang Tak Bisa Cegah Konflik Sosial Foto: Kapolri Jenderal Tito Karnavian. (Ristu Hanafi/detikcom)
Yogyakarta - Kapolri Jenderal Tito Karnavian bakal mencopot anak buahnya yang tidak bisa mencegah terjadinya konflik massal dan konflik sosial di lapisan masyarakat. Hal itu untuk menjaga stabilitas keamanan negara.

"Fokus konflik massal dan sosial apalagi dengan latar belakang agama, SARA tidak boleh terjadi konflik sosial yang bisa memecah bangsa ini, berdampak langsung terhadap stabilitas keamanan negara," kata Tito dalam Dialog Nasional 8 bertema Indonesia Maju di kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Minggu (11/3/2018).


Diakuinya, Polri telah memiliki program guna pemetaan potensi konflik sosial dan melakukan langkah-langkah pencegahan.

"Agar sistem monitoring intelijen jalan, kalau tak jalan, maka yang bertanggung jawab di intelijen saya copot. Tapi jika sudah ada laporan potensi konflik oleh intelijen, ini akan rawan, Kapolda dan Kapolres tidak mengambil langkah cukup untuk menghentikan, akan kita copot," tegasnya.


Untuk kondisi Indonesia saat ini, Tito mengklaim relatif stabil karena jajarannya aktif menjaga stabilitas keamanan. Salah satu tujuannya juga untuk membantu pemerintah agar pertumbuhan ekonomi berlangsung baik. Karena, kondisi keamanan suatu negara memiliki korelasi dengan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

"Kita juga bentuk satgas untuk petakan kartel, bentuk satgas pungli, serta ada satgas pendampingan dana desa, ini harus sampai ke rakyat desa, bukan mengawasi tapi memberi pendampingan. Terakhir kita dukung pemasukan negara lebih tinggi, kita bantu bea cukai dan pajak, infrastruktur ada kecelakaan kerja kita bantu pendalaman dan konsultasi," imbuhnya.

Tahun Politik dan Pesta Demokrasi

Tito juga mengajak untuk tidak menggunakan istilah tahun politik di 2018 ini. Dia lebih menganjurkan memakai istilah pesta demokrasi.

"Pilkada ini jangan kita sebut dengan tahun politik, karena kalau bahasa tahun politik seperti orang takut-takut ini, bahasanya kita ganti pesta demokrasi, party, jadi kita bergembira ria memilih pemimpin," ujarnya.

Selain itu, Tito juga mengajak masyarakat mewaspadai media sosial karena banyak menyampaikan berita provokasi maupun hoax.

"Media sosial ada sisi positif baiknya, tapi faktanya ada kelompok yang terorganisir memanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Sampaikan ke publik untuk tidak langsung percaya info di medsos, jangan dicerna mentah mentah, kita tabayyun (klarifikasi)," imbuhnya.
(idh/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed