Assegaf: Hasil Rekonstruksi Tak Tunjukkan Munir Diracun Polly
Senin, 27 Jun 2005 18:15 WIB
Jakarta - Kasus Munir masih lemah. Hasil rekonstruksi yang digelar di Bandara Soekarno-Hatta pada Kamis 27 Juni lalu tidak memunculkan fakta-fakta baru yang menunjukkan Munir meninggal karena diracun para tersangka. Tapi, ini baru versi pengacara. Penilaian ini disampaikan pengacara PT Garuda, Mohammad Assegaf. "Saya melihat tidak ada satu petunjuk pun bahwa Pollycarpus memiliki peranan pada saat Munir kena racun. Paling hanya menggantikan tempat duduk saja," kata Assegaf.Menurut Assegaf, keterlibatan Oedi Irianto dan Yeti Susmiyati juga belum bisa dibuktikan. Petugas pantry dan pramugari dalam penerbangan yang membawa Munir ini tidak mungkin mengetahui adanya racun pada makanan atau menaruhnya."Bagaimana mungkin mereka membuka makanan dan lemari karena tempatnya disegel. Sehingga sangat mustahil kalau Oedi danYeti mengetahui atau pun menaruh racun pada makanan tersebut," kata Assegaf kepada wartawan di Mabes Polri, Jl. Trunojoyo, Jakarta, Senin (27/6/2005).Assegaf juga menyebutkan adanya perbedaan hasil rekonstruksi antara Brahmani Astawati (pramugari senior) dan Pollycarpus. "Kalau versi Brahmani, Polly dan Brahmani berdialog ketika bertemu di lorong. Sementara menurut Pollycarpus tak ada dialog."Perlu diketahui, dialognya hanya masalah pertukaran tempat duduk antara Munir dan Polly. Peran Polly dalam memindahkan tempat duduk Munir dari kelas ekonomi ke kelas bisnis ini lah yang menjadi salah satu indikasi keterlibatan Polly dalam kasus tewasnya Munir.Rekonstruksi, menurut Assegaf, juga dihadiri oleh dua penumpang Belanda keturunan Cina yang duduk di dekat Munir, yaitu Lie King Nwian dan Lay Lee Fonny. Juga hadir seorang dokter, tapi Assegaf tidak menjelaskan siapa dokter tersebut.
(gtp/)











































