DetikNews
Sabtu 10 Maret 2018, 13:06 WIB

Dirjen Dukcapil Jadi Korban Hoax Ganti KK Usai Registrasi SIM Card

Audrey Santoso - detikNews
Dirjen Dukcapil Jadi Korban Hoax Ganti KK Usai Registrasi SIM Card Foto: Muhammad Imron Rosyadi/detikINET
Jakarta - Direktur Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil Kementerian Dalam Negeri (Dirjen Dukcapil Kemendagri) Zudan Arif Fakhrulloh menyebut beredar meme dirinya dengan kalimat imbauan agar masyarakat lekas mengganti kartu keluarga setelah melakukan registrasi ulang kartu prabayar. Zudan mengajak semua pihak melawan orang-orang yang melakukan tindakan tersebut.

"Terkait dengan isu hoax di media sosial yang kemarin terus menyerang Ditjen Dukcapil, bahwa semua data teman-teman yang melakukan registrasi kartu prabayar saya jamin aman. Yang menggunakan web service Dukcapil Kemendagri aman, tidak ada data yang keluar, tidak ada data yang bocor," terang Zudan dalam diskusi mingguan di Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (10/3/2018).

"Dan bagi penduduk yang sudah melakukan registrasi tidak perlu mengganti kartu keluarganya. Karena isunya begitu, ada tulisan dan foto saya, diisukan sesuai saran Dirjen Dukcapil, jika sudah melakukan registrasi kartu prabayar untuk segera mengganti kartu keluarga karena datanya tidak aman," sambung dia.

Zudan menerangkan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap keamanan identitas pribadi karena operator telepon seluler hanya menerima nomor induk kependudukan (NIK) dan kartu keluarga (KK) warga saja. Ditjen Dukcapil pun hanya akan mengkonfirmasi apakah NIK dan KK yang didaftarkan sesuai atau tidak dengan data Dukcapil.

"Khusus untuk operator seluler hanya dua unsur saja, yaitu NIK dan nomor KK. Tidak ada nama, alamat, tanggal lahir, golongan darah, dan seterusnya. Hanya dua unsur, NIK dan nomor KK. Ketika penduduk melakukan registrasi, maka Dukcapil hanya mengkonfirmasi apakah NIK dan nomor KK-nya cocok dan sesuai," jelas Zudan.

Zudan mengimbau masyarakat memerangi penyebaran informasi yang bertujuan menggagalkan program registrasi ulang. Menurutnya, jika data pengguna telepon seluler tidak ditertibkan, pelaku kejahatan makin merajalela.

"Yang perlu saya sampaikan adalah kita harus melawan bersama-sama orang yang tidak ingin Indonesia ini aman. Kita harus lawan bersama-sana orang yang ingin Indonesia menjadi sarang teroris, sarang penjual narkoba, sarang trafficking. Itu harus kita lawan karena medianya itu nomor seluler yang tidak dikenal," tutur Zudan.

Zudan juga mengingatkan masyarakat berhati-hati dalam memberikan data diri kepada pihak lain karena, berdasarkan penelusurannya, banyak data diri, seperti e-KTP dan kartu keluarga warga, terunggah di internet.

"Saya melakukan treasure, ketik 'Kartu Keluarga' di Google, ketik 'e-KTP' di Google, ternyata muncul semua. Jadi tampaknya kita harus meningkatkan kepedulian kita, awareness kita terhadap data-data kependudukan kita. Itu rentan disalahgunakan," tandas Zudan.
(aud/imk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed