detikNews
2018/03/07 16:30:18 WIB

Sejarah Yogya Istimewa: Nggaji Menteri RI hingga Sumbang Jutaan Gulden

Andi Saputra - detikNews
Halaman 1 dari 4
Sejarah Yogya Istimewa: Nggaji Menteri RI hingga Sumbang Jutaan Gulden
Yogyakarta - Yogyakarta bisa mengatur sendiri tata kelola pemerintahannya, termasuk tidak mengizinkan nonpribumi untuk memiliki tanah di Yogyakarta. Hak istimewa itu tidak lahir serta merta tapi melalui sejarah panjang.

Berdasarkan buku biografi Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Tahta untuk Rakyat, yang dikutip detikcom, Rabu (7/3/2018), berikut sebagian daftar sejarah lahirnya keistimewaan Yogyakarta:

1. Pasca Proklamasi Langsung Menyatakan Bergabung dengan RI

Sehari setelah proklamasi kemerdekaan RI, yaitu pada 18 Agustus 1945, Sri Sultan langsung mengetok kawat kepada kedua proklamator Sukarno-Hatta dan kepada Ketua PBUPKI, dr KRT Radjiman Wediodiningrat. Dengan spontan ia mengucapkan selamat atas terbentuknya negara Republik Indonesia.

Dua hari kemudian, 20 Agustus 1945, kembali ia mengirim telegram. Isinya:

Sanggup berdiri di belakang pimpinan.

Pada 5 September 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX mengelurkan amanat:

PERTAMA : Ngayogyakarta Hadiningrat berbentuk kerajaan yang merupakan Daerah Istimewa, bagian dari RI.
KEDUA : Segala kekuasaan dalam negeri dan urusan pemerintahan berada di tangan Hamengku Buwono IX.
KETIGA : Hubungan antara Ngayogyakarta Hadiningrat dengan pemerintah negara Republik Indonesia berifat langsung dan Sultan Hamengku Buwono IX bertanggung-jawab langsung kepada Presiden RI.
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed