DetikNews
Rabu 07 Maret 2018, 10:27 WIB

Kisah Heroik Warga Aceh Ramai-ramai Patungan Beli Pesawat Pertama RI

Agus Setyadi - detikNews
Kisah Heroik Warga Aceh Ramai-ramai Patungan Beli Pesawat Pertama RI
FOKUS BERITA: Kisah Pesawat Pertama RI
Aceh - Ikut patungan membeli pesawat membuat Nyak Sandang (91) dan warga Aceh merasa bangga. Tak sampai empat bulan setelah penggalangan dana, pesawat pertama Indonesia berhasil dibeli. Para penyumbang ini punya cara tersendiri meluapkan kegembiraan kala melihat burung besi itu mengudara.

Pesawat yang beri nama Dakota RI-001 Seulawah sempat beberapa kali mengudara di angkasa Aceh Jaya, Aceh. Ketika mendengar suara pesawat dari jauh, warga kompak keluar rumah. Mata tertuju ke langit dan menunggu burung besi dengan panjang badan 19,66 meter dan rentang sayap 28.96 meter itu lewat.

"Waktu lihat pesawat sudah terbang, kita selalu bilang "itu pesawat yang kita beli sudah pulang. Merdeka." Tua muda bersemangat sekali waktu itu," kata kakek Sandang saat ditemui di rumahnya di Desa Lhuet, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya, Aceh, Selasa (7/3/2018).

Masyarakat Aceh kala itu punya alasan tersendiri mau menyumbang untuk negara. Mereka sudah kapok dengan penjajahan Belanda. Terlebih pada masa-masa sebelum kemerdekaan, warga harus membayar pajak sebesar Rp 7,5/tahunnya. Jika tidak sanggup melunasi, maka penjara menanti.

Ketika kemerdekaan berhasil direbut, warga menyambutnya dengan suka cita. Saat ada ajakan untuk patungan membeli pesawat, masyarakat tanpa ragu untuk menyumbang. Berdasarkan ingatan Kakek Sandang, di kampungnya cuma sekali dibuat ajakan untuk menyumbang. Tiga hari berselang, dana terkumpul.

"Warga ada yang nyumbang Rp 20, ada yang nyumbang Rp 100. Pokoknya berapa pun yang ada boleh disumbang. Ini tidak ada paksaan. Tapi kaya miskin menyumbang semua," jelas kakek yang belum pernah sekalipun naik pesawat.

"Waktu itu, ulama kami bilang "sekarang negara sudah kita pegang. Jangan sedih-sedih untuk menyumbang". Karena kami terharu, ketika merdeka langsung mau beli pesawat terbang," ungkap Sandang.

Kala itu, usia Kakek Sandang masih 23 tahun. Sebagai bukti sudah menyerahkan uang, Kakek Sandang diberi obligasi. Daud Beureueh waktu itu sempat berjanji dalam waktu 40 tahun masyarakat akan mendapat hadiah atau imbalan.

"Waktu itu saya bantu negara yang sudah kita pegang. Ini satu kebanggaan bagi saya bisa bantu negara. Saya ikhlas membantu. Tidak mengharap apa-apa. Kami waktu itu membantu tanpa adanya paksaan," jelas kakek 20 cucu ini.

[Gambas:Video 20detik]


(asp/asp)
FOKUS BERITA: Kisah Pesawat Pertama RI
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed