DetikNews
Rabu 07 Maret 2018, 09:01 WIB

Kakek Sandang Ikut Patungan Beli Pesawat Pertama RI: Saya Bangga

Agus Setyadi - detikNews
Kakek Sandang Ikut Patungan Beli Pesawat Pertama RI: Saya Bangga
FOKUS BERITA: Kisah Pesawat Pertama RI
Aceh - Nyak Sandang (91) duduk bersila dan punggungnya bersandar di dinding rumah. Di usianya hampir satu abad, kakek 20 cucu ini masih semangat bercerita. Ingatannya sangat kuat. Hanya saja, matanya sudah tidak dapat melihat dan pendengar mulai berkurang. Dia pernah berjuang melawan Belanda hingga ikut patungan membeli pesawat Indonesia pertama.

Sandang masih ingat betul ajakan untuk membeli pesawat muncul setelah Gubernur Aceh dan Gubernur Militer waktu itu Abu Daud Beureueh berceramah di halaman masjid di Calang, Aceh Jaya, Aceh. Semua masyarakat kala itu dengan suka cita datang ke lokasi untuk mendengar pidato orang nomor satu di Tanah Rencong.

Dalam pidatonya yang menggebu-gebu, Daud membakar semangat warga dan mengungkapkan Indonesia merupakan negara milik rakyat. Daud menyampaikan pasca kemerdekaan, Indonesia membutuhkan pesawat agar mudah berhubungan dengan negara luar. Sebab, Indonesia termasuk negara kaya raya. Hubungan dengan luar negeri sangat diperlukan.

Kakek Sandang masih ingat betul ketika dirinya menghadiri ceramah tersebut. Pada awal pidato, Daud mengungkapkan pertemuan Presiden Soekarno dengan dirinya di Masjid Baiturrahman, Banda Aceh. Usai pidato, seluruh ulama di Aceh Jaya dikumpulkan. Daud Beureueh bermusyawarah dengan ulama cara mengumpulkan uang untuk membeli pesawat.

"Di sini ada satu ulama yang sangat terkenal yaitu Abu Sabang (Muhammad Idarus). Warga di sini, semua dengar apa yang dibilang sama Abu Sabang. Kalau Abu bilang kita kumpulkan uang untuk beli pesawat, semua ikut menyumbang," kata Sandang saat ditemui di rumahnya di Desa Lhuet, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya, Aceh, Selasa (6/7/2018).
Ikut Patungan Beli Pesawat Pertama Indonesia, Sandang: Saya Bangga

Masyarakat terharu kala itu dengan ajakan membeli pesawat. Soalnya, tiga tahun pascamerdeka, warha yang berusia 18 hingga 70 tahun di Aceh Jaya baru keluar dari penjara karena tidak membayar pajak sebesar Rp 7,5/tahun.

Semua masyarakat di sana kala itu, tanpa kecuali sepakat untuk menyumbang. Ini juga bagian euforia menyambut kemerdekaan. Kakek Sandang dan ayahnya kemudian menjual sepetak tanah seharga Rp 100. Tanah itu sejatinya laku dijual Rp 200 namun dia menjual buru-buru agar segera mempunyai uang. Setelah uang dikantongi, baru diserahkan pada satu orang yang ditunjuk.

Kala itu, usia Kakek Sandang masih 23 tahun. Sebagai bukti sudah menyerahkan uang, Kakek Sandang diberi obligasi. Daud Beureueh waktu itu sempat berjanji dalam waktu 40 tahun masyarakat akan mendapat hadiah atau imbalan.

"Waktu itu saya bantu negara yang sudah kita pegang. Ini satu kebanggaan bagi saya bisa bantu negara. Saya ikhlas membantu. Tidak mengharap apa-apa. Kami waktu itu membantu tanpa adanya paksaan," jelas kakek Sandang yang hingga kini belum pernah naik pesawat.

[Gambas:Video 20detik]


(asp/asp)
FOKUS BERITA: Kisah Pesawat Pertama RI
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed